Select Menu

My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah


Gaji Tidak Sesuai Dengan Kerja ?

Seseorang datang kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.

Ustaz Zulfi Akmal

Sejarah Penanggalan Masehi

Dalam sejarahnya, penanggalan Masehi memiliki akar yang kuat dengan astrologi-astrologi kuno seperti, mesir kuno, mesopotamia, yunani, dan romawi tua serta dalam perjalanannya mendapatkan intervensi gereja. Memang, pada realitanya penanggalan merupakan sistim perhitungan dimensi waktu yang digunakan untuk penentuan Hari-hari besar keagamaan dan suatu akar budaya tertentu di suatu Negeri. Seperti penanggalan Romawi untuk perayaan-perayaan kemusyrikan pada dewa-dewa mereka. Selain itu, ada juga penanggalan mesir yang berpatokan pada bintang Sirius, kemudian darinya lahirlah penanggalan Qibthy. Penamaan pada bulan-bulan Qibthy berkaitan erat pada sesembahan-sesembahan yang mereka buat sendiri selain merujuk pada pergantian musim dengan tanda-tanda bintang. Untuk itu, marilah kita coba mengulas lebih dalam penanggalan Masehi, yaitu penanggalan yang mayoritas manusia seluruh dunia baik muslim maupun nonmuslim belum bisa lepas darinya. Sebagai seorang muslim kitapun patut untuk bertanya, adakah jejak-jejak kesyirikan padanya?

Kalau kita mau melihat sejarahnya, maka didapati ada beberapa fase penanggalan Masehi yang akhirnya terbentuklah penanggalan seperti sekarang ini.

Penanggalan Romawi

Disebutkan bahwa penanggalan ini diperkenalkan pada abad ke VII. Pada mulanya penanggalan ini terdiri dari 10 bulan saja dan 304 hari. Namun semakin berkembangnya waktu, Numa Pompilius menambahan dua bulan yaitu Januarius dan Februarius.

Penamaan bulan dan hari pada penanggalan Masehi erat kaitannya dengan nama sesembahan-sesembahan selain Allah, perayaan keagamaan dan musim serta nama-nama bilangan dalam bahasa Romawi. Misalnya, Bulan Maret atau Marius mengambil nama dari Dewa Mars. Pengambilan nama ini merupakan persembahan orang-orang musyrikin Romawi kepada dewa tersebut. Kemudian April, berasal dari Aperire yang bermakna berseminya tanaman di musim semi.
Penanggalan Julian

Sistem penanggalan Romawi terus berjalan sampai akhirnya Julius Caesar berkuasa dan merubah sistem tersebut berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari, yaitu setahun berumur 365 hari lebih 1/4. Kemudian untuk menutupi kelebihan yang ada, 1/4 tiap 4 tahun di kumpulkan menjadi satu hari, yang dikenal dengan tahun kabisat

Penanggalan Gregorian

Ternyata dalam penanggalan Julian ada 4 menit kelebihan. Karena itu Paus Gregorian XIII sebagai pemimpin gereja Vatikan mengeluarkan beberapa keputusan diantaranya, termasuk dalam tahun kabisat ialah tahun-tahun setiap abad yang bisa di bagi 400. Dengan begitu penanggalan ini pun disebut Penanggalan Gregorian. Selain itu, dia juga menetapkan bahwa tahun baru adalah 1 Januari bukan lagi 25 Maret yang sesuai dengan kelahiran Nabi Isa.

Sampai sini, jelaslah bagi kita, bahwa penanggalan Masehi adalah penanggalan yang erat kaitannya dengan perayaan kemusyrikan era Romawi dan pemujaan sesembahan-sesembahan selain Allah. Belum lagi intervensi Gereja seiring waktu berjalan semakin memperjelas bahwa penanggalan Masehi bukanlah bagian dari dinul Islam yang Allah ridhai.

(jeko/dbs)
Sumber:
http://www.shoutussalam.com

Jilbab Jadi Kambing Hitam

“Aku paling gak suka liat cewe pake jilbab bermesra mesran sama pacarnya”..
“Sama aku juga..mending gak usah pake jilbab aja sekalian”..
“Bener tuh...daripada pake jilbab tapi kelakuan kayak gitu”..

Sering sekali kita mendengar teman-teman kita mengucapkan kata-kata seperti itu..terutama mereka yang belum mengenakan jilbab...

Sungguh malang sekali nasib jilbab itu..yang salah orangnya..tapi jilbabnya pun ikut di hujat

Yang lebih miris lagi mereka mengatakan..“mending gak usah pake jilbab daripada kelakuan buruk”. ..
Sudah tidak memakai jilbab..plus kelakuan buruk kok dibilang mending..??
Itu artinya menurut mereka perbuatan tercela itu pantas untuk dilakukan asal tidak memakai jilbab...

Bukankah perbuatan tercela itu tetap dosa dilakukan oleh manusia siapapun dia.. tak peduli dia kaya..miskin..laki laki..perempuan..memakai jilbab ataupun tidak.. besarnya dosa yang mereka lakukan pun sama.. hukuman yang mereka terimapun juga sama...
Lantas bagaimana mereka bisa berkata seperti itu..??

Manusia tak ada yang sempurna..Begitupun semua perempuan yang memakai jilbab...mereka juga hanyalah manusia biasa tempat khilaf dan lupa...
Tak ada tuntutan jilbab itu hanya boleh dipakai oleh mereka yang telah sempurna akhlaknya...
Bukankah sudah jelas bahwa jilbab wajib dikenakan semua perempuan islam yang sudah baligh seperti wajibnya shalat..
tak perduli sifat seperti apa yang mereka miliki...Tapi sungguh masih ada saja sebagian orang yang menganggap memakai jilbab itu hanya sunah...

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu..anak-anakmu yang perempuan dan isteri-isteri orang mu’min...“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ”...yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal.. karena itu mereka tidak diganggu...Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (Al-Adzhab :59)..

Janganlah jilbabnya yang di hujat..tapi ingatkanlah mereka...
Nasehatilah mereka jika kalian tahu perbuatan yang mereka lakukan itu salah...
Dan tidak harus sempurna dulu atau harus memakai jilbab untuk bisa mengingatkan saudaramu yang salah...
Namun alangkah baiknya jika kalian berjilbab sehingga nasehatmu pun didengar oleh mereka...
Bukankah saling mengingatkan sesama saudara muslim itu mendapat pahala..??

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang...
Ketika itu yang terjadi..maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa...Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka... Keinginan kita menuju surga-Nya akan sirna...

Zuhud Itu Adalah Menjadikan Dunia Di Tangan, Bukan Di Hati

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya khawatirkan atas kamu, tetapi saya khawatir kalau dunia ini terhampar luas bagimu, sebagaimana telah terhampar pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba mengejarnya, sehingga membinasakanmu sebagaimana membinasakan mereka.”(HR. Bukhari-Muslim)

“Tidaklah dunia ini dibanding akhirat kecuali seperti sesuatu yang apabila salah seorang di antara kamu memasukkan jarinya ke dalam laut, maka lihatlah apa yang tersisa (di ujung jari) ketika mengeluarkannya?” (HR. Muslim)

“Zuhud itu adalah menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.” (Ali bin Abi Thalib)
Cara menghadapi kehidupan dunia yang sementara ini, para sahabat Rasul yang muliapun telah banyak memberikan petunjuk.

Doa Abu Bakar ra: “Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.” Dan doa sahabat Umar bin Khattab: “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan dia di lubuk hati kami.”

Suatu ketika Ibnu Abbas ra. Ditanya: “Bagaimana dengan orang yang memiliki harta sebesar 12.000 dinar?” Beliau menjawab: “Ia masih tetap zuhud, selama tidak sibuk dengan dunia.”

Salman al-Farisi ra. pernah meminta nasihat kepada Abu Bakar ra. Maka Abu Bakar berkata:“Allah telah membukakan dunia untuk kalian, tapi janganlah kalian ambil kecuali secukupnya saja.”

Pernah ditanyakan kepada Abu Hazim az-Zahid, “Apakah yang tuan miliki saat ini?” Beliau berkata: “Dua kekayaan, yang aku tidak takut miskin selama keduanya berada di sampingku, yakni yakin kepada Allah dan putus asa dari apa yang ada pada manusia.”

Lalu ditanya lagi” “Tidakkah tuan takut miskin?” Beliau menjawab: “Apakah aku takut miskin, padahal Tuhan Pelindungku yang memiliki seluruh isi langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antaranya?”

اللهم لا تجعل الدنيا اكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا إلى النار مصيرنا وأجعل الجنة هي دارنا وقرارنا
اللهم إنا نعوذ بك من زوال نعمتك وتحول عافيتك ومن فجائة نقمتك ومن جميع سخطك يارب العالمين

Kenapa Saya Keluar Dari Syiah

Ada sebuah kisah yang tersebut didalam sebuah buku "KENAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH," karangan Sayid Husin Al-Musawi,sangat memiris hati para pembacanya.
Nikah mut'ah (nikah kontrak): tak lain adalah pelacuran.

Suatu ketika ada seorang ibu yang mau menikahkan seorang putrinya [yang tak lain adalah hasil hubungannya dengan seseorang dengan cara nikah Mut'ah]. Sang ibu menanyakan keputrinya perihal perencanaan pernikahan tersebut.
Lalu putri ibu tersebut pun menjawab sembari menangis,Ibu, saya telah menikah mut'ah dengan si pulan. Mendengar itu,sang ibu pun turut menangis dan berkata si pulan itu adalah bapakmu,yang telah menikahi ibumu juga dengan cara nikah mut'ah..

Duhai diri ...

Andai sebanyak ini hartamu..
Seberapa banyak yang bisa mengenyangkanmu?
Kau katakan "ini hartaku...ini hartaku.."
Adakah yang benar-benar menjadi milikmu
Kecuali sebatas apa yang mengenyangkan dirimu
Juga yang engkau pakai lalu usang dimakan waktu?

Yang engkau sedekahkan, itulah sejatinya milikmu
Yang berguna hingga setelah matimu

Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi

Berbicara tentang Hajjaj bin Yusuf, berarti kita mengangkat pembicaraan tentang seorang pemimpin yang zalim, otoriter, dan kejam. Buku sejarah manapun yang kita buka yang meceritakan tentang Hajjaj bin Yusuf, maka tema besar pembicaraannya serupa, semua bercerita tentang kesewenang-wenangannya sebagai seorang pemimpin. Sampa-sampai sebagian ahli sejarah menjadikan namanya sebagai sinonim kata zalim dan menjadikannya sebagai profil batas maksimal kezaliman seorang penguasa. Namun, Hajjaj juga memiliki sisi-sisi humanis dan jasa-jasa yang layak untuk diapresiasi. Ahli sejarah melulu menceritakan kejelekannya sehingga sosok Hajjaj tidak tergambar secara utuh.

Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan sisi lain dari sosok Hajjaj bin Yusuf, sehingga jelas bagi kita pribadi Hajjaj bin Yusuf; manis dan pahitnya, baik dan buruknya.

Kelahiran dan Masa Kecil Hajjaj bin Yusuf

Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dilahirkan di daerah Thaif pada tahun 41 H / 661 M. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran.

Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna, 30 juz. Kemudian ia mengulang-ulang hafalannya di majilis-majlis para sahabat dan tabi’in, seperti: Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Sa’id bin al-Musayyib, dll. Kemudian ia mulai diberi tanggung jawab untuk mengajar anak-anak lainnya.

Masa kanak-kanak yang ia habiskan di Thaif sangat berpengaruh terhadap kefasihannya berbahasa. Di sana juga ia bergaul dengan Kabilah Hudzail, kabilah Arab yang paling fasih dalam berbahasa. Setelah ditempa dengan baik, Hajjaj tumbuh menjadi seorang orator, memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.”

Hubungan Hajjaj dengan Abdullah bin Zubair

Saat Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu memproklamirkan diri menjadi khalifah di Mekah –tahun 64 H / 683 M setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah-, ia berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia Islam karena latar belakangnya anak dari sepupu Rasulullah, cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq, dan salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Saat itu nyaris hanya Yordania saja yang memberikan loyalitas penuh kepada kekhilafahan Bani Umayyah. Marwan bin Hakam sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah hanya mampu mengamankan Mesir dari pengaruh Abdullah bin Zubair.

Kemudian diangkatlah Abdul Malik bin Marwan sebagai pewaris tahta. Untuk membereskan masalah dengan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik melirik Hajjaj bin Yusuf karena Hajjaj dikenal sebagai orang yang keras, memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, dan pantang menyerah. Kekuatan Abdullah bin Zubair pun bias didesak sehingga kekuasaannya hanya terbatas di wilayah Hijaz. Akhirnya Hajjaj berhasil mengepung Kota Mekah yang menjadi benteng terakhir Abdullah bin Zubair.

Hajjaj menggempur kota suci itu dengan tembakan-tembakan manjaniq, sampai-sampai sebagian dari Ka’bah roboh tertimpa peluru-peluru manjaniq pasukan Hajjaj. Hajjaj benar-benar tidak peduli dengan kehormatan kota yang mulia itu. Pengepungan itu akhirnya menewaskan Abdullah bin Zubair dan berakhirlah masa kekuasaannya. Umat Islam kembali lagi bersatu di bawah satu kepemimpinan, kepemimpinan Bani Umayyah dengan khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Sebagai penghargaan untuk keberhasilan Hajjaj, khalifah melimpahkan kekuasaan Hijaz di tangan Hajjaj bin Yusuf. Dengan demikian kekuasaan Mekah, Madinah, dan Thaif berada di tangan gubernur bertangan besi yang ditakuti. Kemudian kekuasaan Hajjaj ditambah lagi dengan wilayah Yaman dan Yamamah.

Hajjaj bin Yusuf Menjadi Gubernur Irak

Setelah Basyar bin Marwan –saudara Khalifah Abdul Malik- wafat, khalifah menunjuk Hajjaj bin Yusuf menjadi gubernur Irak. Irak adalah sebuah wilayah yang luas yang sedang mengalami gejolak dan kekacauan, orang-orang Khawarij terus membuat makar di wilayah ini sehingga stabilitas sulit dicapai. Sebelumnya penduduk wilayah berani menolak perintah khalifah untuk berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah. Jadi, menurut khaligah Hajjaj-lah orang yang tepat yang mampu meredam keadaan ini dan mengembalikan keamanan di tengah-tengah rakyat Irak.

Hajjaj menyambut perintah khalifah dan langsung berangkat menuju Irak pada tahun 75 H / 694 M. sesampainya di Kufah, ia langsung berkhutbah di tengah-tengah rakyatnya dengan khutbah yang keras bagaikan badai. Isi khutbahnya adalah ancaman terhadap orang-orang yang merusak stabilitas Irak, mengancam para Khawarij, dan teguran bagi mereka yang malas berjihad. Hajjaj mengancam akan membunuh orang-orang yang malas untuk berangkat berjihad. Mendengar ancaman itu, rakyat Kufah pun bersegera berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah.

Saat suasana Kufah sudah mulai bisa dikendalikan, Hajjaj berangkat menuju Bashrah. Sesampainya di Bashrah, rakyat Bashrah ternyata sudah ciut nyalinya untuk berhadapan dengan Hajjaj. Hajjaj kembali mengancam orang-orang Khawarij di kota itu agar tidak membuat onar dan kembali menaati khalifah. Hajjaj mengatakan, “Sesungguhnya aku mengingatkan dan aku tidak akan menimbang-nimbang setelahnya, aku sudah menegaskan dan aku tidak akan memberi keringanan, aku sudah mengancam dan tidak akan memaafkan…”

Hajjaj berhasil menuntaskan banyak pergolakan yang terjadi di wilayah Irak, seperti pemberontakan Abdurrahman bin al-Asy’ats yang dibaiat menjadi khalifah oleh penduduk Irak. Awalnya Ibnu al-Asy’ats tidak menginginkan menjadi khalifah, ia hanya tidak senang dengan perlakuan Hajjaj yang teramat zalim, namun situasi kian memanas, dan orang-orang pun membaiatnya menjadi khalifah. Akibat peperangan Hajjaj dan Abdurrahman bin al-Asy’ats ini, ribuan jiwa tewas.

Jasa-jasa Hajjaj bin Yusuf

Berbiacara tentang kezaliman dan kekejaman Hajjaj, hal itu adalah sesuatu yang tak terbantahkan, ia sangat mudah menumpahkan darah orang yang tak bersalah. Kekejamannya itu menyebabkan beberapa panglima perangnya membelot karena tidak tahan menerima perintah yang menzalimi kelompok tertentu. Namun pada masanya juga ada masa-masa perbaikan. Setelah pergolakan di Irak dapat ia atasi, ia mulai mewujudkan pembangunan fisik di Irak. Pembangunan kantor-kantor, fasilitas umum dan kesehatan. Sungai-sungai di Irak yang kala itu tidak memiliki jembatan, dibuatkan Hajjaj jembatan untuk mempermudah masyarakat, ia juga membuat bendungan untuk menampung air hujan, nantinya bendungan tersebut digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan para musafir. Sedangkan daerah-daerah yang jauh dari bendungan diperintahkan menggali sumur.

Hajjaj juga dikenal detil dan selektif dalam memilih pegawai pemerintahan, ia benar-benar menunjuk orang-orang yang capable di bidangnya karena ia sangat benci dengan kesalahan dan keteledoran.

Ia juga berhasil menaklukkan banyak wilayah. Di antara wilayah yang ditaklukkannya adalah wilayah Balkh, Baikan (بيكند), Bukhara, Kasy, Thaliqan (sebuah kota yang mencakup daerah Thakharistan, kota di Afganistan, dan Thaliqan Qazawin di Iran sekarang), Khawarizm, Kasyan (daerah di wilayah Iran sekarang), hingga kota-kota perbatasan Cina. Mungkin buah dari penakulukkan Hajjaj terhadap Bukhara adalah lahirnya seorang imam besar di Bukhara, Imam Bukhari rahimahullah.

Hajjaj juga memerintahkan sepupunya yang masih sangat belia, pahlawan Islam yang terkenal, Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi menaklukkan wilayah India, hingga muncullah kerajaan besar di abad pertengahan, Kerajaan Mughal. Para sejarawan mengaitkan penaklukkan Muhammad bin Qasim ast-Tsaqafi ini dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Bani Tsaqif. Ketika Nabi berdakwah di Thaif, dan diusir oleh Bani Tsaqif lalu datanglah Jibril yang menawarkan agar sekiranya malaikat akhsyabain menimpakan gunung kepada orang-orang Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Bukhari dan Muslim).

Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran.

Penutup

Para ahli sejarah ketika membicarakan pribadi Hajjaj, ada yang mencela dan ada yang memuji dari sisi-sisi tertentu. Namun mereka tidak berselisih bahwa Hajjaj adalah seorang pemimpin yang lebih mengedepankan cara-cara keras dan sangat mudah memerangi atau membunuh orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada pemerintah tanpa mengedepankan dialog. Namun memang, kebijakannya ini berhasil membuat keadaan wilayah pimpinannya menjadi aman, suatu pencapaian yang tidak bias didapatkan oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelum dirinya.

Imam Ibnu Katsir mencoba memposisikan diri di pihak yang pertengahan, beliau mengatakan, “Celaan yang terbesar yang diberikan kepada Hajjaj adalah ia seorang yang sangat mudah menumpahkan darah. Cukuplah bagi dia hukuman dari Allah karena perbuatannya ini. Di sisi lain, ia sangat bersemangat dalam berjihad dan menyebarkan Islam ke negeri-negeri lainnya, mudah berderma kepada orang-orang yang memuliakan Alquran (ahlul Quran), ia juga banyak berjasa dalam penyebaran dan penjagaan Alquran (member harakat dan titik serta menjaga riwayat-riwayat bacaan Alquran di masyarakat pen.), saat wafat ia hanya meninggalkan uang sebanyak 300 dirham saja”.

Hajjaj wafat di Kota Wasith 21 Ramadhan 95 H bertepatan dengan 9 Juni 714 M.

Sumber:
-Islamstory.com
http://kisahmuslim.com/biografi-hajjaj-bin-yusuf-ats-tsaqafi/