Select Menu

My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah


Cara Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Shalat Idul Fitri & Idul Adha

Bacaan takbir di hari raya

اللهُ أَكْبَرُ 3 x لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Shalat dua raka’at yang dilakukan setelah matahari terbit, sekira satu tumbak hingga tergelincirnya matahari di hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Cara melaksanakan shalat ‘ied sama dengan shalat-shalat yang lainnya, hanya pada raka’at pertama sebelum membaca al-Fatihah sunnah membaca takbir 7 x dan 5 x pada raka’at kedua seraya mengangkat kedua tangan. Dan setelah Shalat Ied diadakan Khuthbah Idul Fitri atau Idul Adha

Bacaan bilal shalat ‘Iedul Fithri & Adha
اللَّهُ أَكْبَرُ 6 x لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ
صلوا سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ / لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ



Niat shalat ‘Iedul Fitri
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Niat shalat Iedul Adha
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Bacaan bilal khutbah ‘iedul Fithri & Adha ketika khatib belum naik kemimbar

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ اعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ عِيْدِ الْفِطْرِ /عِيْدِ الْأَضْحَى وَيَوْمُ السُّرُوْرِ وَيَوْمُ الْمَغْفُوْرِ أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ أَنْصِتُوْا أَثَابَكُمُ اللهُ وَاسْمَعُوْا أَجَارَكُمُ اللهُ وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ

Setelah khatib naik ke mimbar dan mengucapkan salam, bilal membaca do’a berikut ini


اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ 2 X اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
اللهم قَوِّ الْإِسْلَامَ وَالْإِيْمَانَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِ الدِّيْنِ وَاخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Do’a dalam khutbah ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul adha

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ عِيْشَةً تَقِيَّةً وَمِيْتَةً سَوِيَّةً وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍ وَلَا فَاضِحٍ اللهم لَا تُهْلِكْنَا فَجْأَةً وَلَا تَأْخُذْنَا بَغْتَةً وَلَا تَعْجَلْنَا عَنْ حَقٍّ وَلَا وَصِيَّةٍ اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى وَالتُّقَى وَالْهُدَى وَحُسْنَ عَاقِبَةِ الْاَخِرَةِ وَالدُّنْيَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّكِّ وَالشِّقَاقِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ فِيْ دِيْنِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 1

Do’a dibaca pada malam hari raya ‘Iedul Fitri & ‘Iedul adha

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ2 40 / 70 x

Catatan :
Di antara takbir-takbir sebelum fatihah dalam shalat (7 x di rakaat pertama n 5 x di rakaat kedua) menurut riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.” Dan Ulama mencontohkan bacaan tersebut sbb:


سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Sumber : al-Wasail, hal. 215 -216 (http://pesantren.or.id)

Gaji Tidak Sesuai Dengan Kerja ?

Seseorang datang kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.

Ustaz Zulfi Akmal

Sejarah Penanggalan Masehi

Dalam sejarahnya, penanggalan Masehi memiliki akar yang kuat dengan astrologi-astrologi kuno seperti, mesir kuno, mesopotamia, yunani, dan romawi tua serta dalam perjalanannya mendapatkan intervensi gereja. Memang, pada realitanya penanggalan merupakan sistim perhitungan dimensi waktu yang digunakan untuk penentuan Hari-hari besar keagamaan dan suatu akar budaya tertentu di suatu Negeri. Seperti penanggalan Romawi untuk perayaan-perayaan kemusyrikan pada dewa-dewa mereka. Selain itu, ada juga penanggalan mesir yang berpatokan pada bintang Sirius, kemudian darinya lahirlah penanggalan Qibthy. Penamaan pada bulan-bulan Qibthy berkaitan erat pada sesembahan-sesembahan yang mereka buat sendiri selain merujuk pada pergantian musim dengan tanda-tanda bintang. Untuk itu, marilah kita coba mengulas lebih dalam penanggalan Masehi, yaitu penanggalan yang mayoritas manusia seluruh dunia baik muslim maupun nonmuslim belum bisa lepas darinya. Sebagai seorang muslim kitapun patut untuk bertanya, adakah jejak-jejak kesyirikan padanya?

Kalau kita mau melihat sejarahnya, maka didapati ada beberapa fase penanggalan Masehi yang akhirnya terbentuklah penanggalan seperti sekarang ini.

Penanggalan Romawi

Disebutkan bahwa penanggalan ini diperkenalkan pada abad ke VII. Pada mulanya penanggalan ini terdiri dari 10 bulan saja dan 304 hari. Namun semakin berkembangnya waktu, Numa Pompilius menambahan dua bulan yaitu Januarius dan Februarius.

Penamaan bulan dan hari pada penanggalan Masehi erat kaitannya dengan nama sesembahan-sesembahan selain Allah, perayaan keagamaan dan musim serta nama-nama bilangan dalam bahasa Romawi. Misalnya, Bulan Maret atau Marius mengambil nama dari Dewa Mars. Pengambilan nama ini merupakan persembahan orang-orang musyrikin Romawi kepada dewa tersebut. Kemudian April, berasal dari Aperire yang bermakna berseminya tanaman di musim semi.
Penanggalan Julian

Sistem penanggalan Romawi terus berjalan sampai akhirnya Julius Caesar berkuasa dan merubah sistem tersebut berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari, yaitu setahun berumur 365 hari lebih 1/4. Kemudian untuk menutupi kelebihan yang ada, 1/4 tiap 4 tahun di kumpulkan menjadi satu hari, yang dikenal dengan tahun kabisat

Penanggalan Gregorian

Ternyata dalam penanggalan Julian ada 4 menit kelebihan. Karena itu Paus Gregorian XIII sebagai pemimpin gereja Vatikan mengeluarkan beberapa keputusan diantaranya, termasuk dalam tahun kabisat ialah tahun-tahun setiap abad yang bisa di bagi 400. Dengan begitu penanggalan ini pun disebut Penanggalan Gregorian. Selain itu, dia juga menetapkan bahwa tahun baru adalah 1 Januari bukan lagi 25 Maret yang sesuai dengan kelahiran Nabi Isa.

Sampai sini, jelaslah bagi kita, bahwa penanggalan Masehi adalah penanggalan yang erat kaitannya dengan perayaan kemusyrikan era Romawi dan pemujaan sesembahan-sesembahan selain Allah. Belum lagi intervensi Gereja seiring waktu berjalan semakin memperjelas bahwa penanggalan Masehi bukanlah bagian dari dinul Islam yang Allah ridhai.

(jeko/dbs)
Sumber:
http://www.shoutussalam.com

Jilbab Jadi Kambing Hitam

“Aku paling gak suka liat cewe pake jilbab bermesra mesran sama pacarnya”..
“Sama aku juga..mending gak usah pake jilbab aja sekalian”..
“Bener tuh...daripada pake jilbab tapi kelakuan kayak gitu”..

Sering sekali kita mendengar teman-teman kita mengucapkan kata-kata seperti itu..terutama mereka yang belum mengenakan jilbab...

Sungguh malang sekali nasib jilbab itu..yang salah orangnya..tapi jilbabnya pun ikut di hujat

Yang lebih miris lagi mereka mengatakan..“mending gak usah pake jilbab daripada kelakuan buruk”. ..
Sudah tidak memakai jilbab..plus kelakuan buruk kok dibilang mending..??
Itu artinya menurut mereka perbuatan tercela itu pantas untuk dilakukan asal tidak memakai jilbab...

Bukankah perbuatan tercela itu tetap dosa dilakukan oleh manusia siapapun dia.. tak peduli dia kaya..miskin..laki laki..perempuan..memakai jilbab ataupun tidak.. besarnya dosa yang mereka lakukan pun sama.. hukuman yang mereka terimapun juga sama...
Lantas bagaimana mereka bisa berkata seperti itu..??

Manusia tak ada yang sempurna..Begitupun semua perempuan yang memakai jilbab...mereka juga hanyalah manusia biasa tempat khilaf dan lupa...
Tak ada tuntutan jilbab itu hanya boleh dipakai oleh mereka yang telah sempurna akhlaknya...
Bukankah sudah jelas bahwa jilbab wajib dikenakan semua perempuan islam yang sudah baligh seperti wajibnya shalat..
tak perduli sifat seperti apa yang mereka miliki...Tapi sungguh masih ada saja sebagian orang yang menganggap memakai jilbab itu hanya sunah...

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu..anak-anakmu yang perempuan dan isteri-isteri orang mu’min...“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ”...yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal.. karena itu mereka tidak diganggu...Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (Al-Adzhab :59)..

Janganlah jilbabnya yang di hujat..tapi ingatkanlah mereka...
Nasehatilah mereka jika kalian tahu perbuatan yang mereka lakukan itu salah...
Dan tidak harus sempurna dulu atau harus memakai jilbab untuk bisa mengingatkan saudaramu yang salah...
Namun alangkah baiknya jika kalian berjilbab sehingga nasehatmu pun didengar oleh mereka...
Bukankah saling mengingatkan sesama saudara muslim itu mendapat pahala..??

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang...
Ketika itu yang terjadi..maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa...Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka... Keinginan kita menuju surga-Nya akan sirna...

Zuhud Itu Adalah Menjadikan Dunia Di Tangan, Bukan Di Hati

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya khawatirkan atas kamu, tetapi saya khawatir kalau dunia ini terhampar luas bagimu, sebagaimana telah terhampar pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba mengejarnya, sehingga membinasakanmu sebagaimana membinasakan mereka.”(HR. Bukhari-Muslim)

“Tidaklah dunia ini dibanding akhirat kecuali seperti sesuatu yang apabila salah seorang di antara kamu memasukkan jarinya ke dalam laut, maka lihatlah apa yang tersisa (di ujung jari) ketika mengeluarkannya?” (HR. Muslim)

“Zuhud itu adalah menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.” (Ali bin Abi Thalib)
Cara menghadapi kehidupan dunia yang sementara ini, para sahabat Rasul yang muliapun telah banyak memberikan petunjuk.

Doa Abu Bakar ra: “Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.” Dan doa sahabat Umar bin Khattab: “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan dia di lubuk hati kami.”

Suatu ketika Ibnu Abbas ra. Ditanya: “Bagaimana dengan orang yang memiliki harta sebesar 12.000 dinar?” Beliau menjawab: “Ia masih tetap zuhud, selama tidak sibuk dengan dunia.”

Salman al-Farisi ra. pernah meminta nasihat kepada Abu Bakar ra. Maka Abu Bakar berkata:“Allah telah membukakan dunia untuk kalian, tapi janganlah kalian ambil kecuali secukupnya saja.”

Pernah ditanyakan kepada Abu Hazim az-Zahid, “Apakah yang tuan miliki saat ini?” Beliau berkata: “Dua kekayaan, yang aku tidak takut miskin selama keduanya berada di sampingku, yakni yakin kepada Allah dan putus asa dari apa yang ada pada manusia.”

Lalu ditanya lagi” “Tidakkah tuan takut miskin?” Beliau menjawab: “Apakah aku takut miskin, padahal Tuhan Pelindungku yang memiliki seluruh isi langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antaranya?”

اللهم لا تجعل الدنيا اكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا إلى النار مصيرنا وأجعل الجنة هي دارنا وقرارنا
اللهم إنا نعوذ بك من زوال نعمتك وتحول عافيتك ومن فجائة نقمتك ومن جميع سخطك يارب العالمين

Kenapa Saya Keluar Dari Syiah

Ada sebuah kisah yang tersebut didalam sebuah buku "KENAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH," karangan Sayid Husin Al-Musawi,sangat memiris hati para pembacanya.
Nikah mut'ah (nikah kontrak): tak lain adalah pelacuran.

Suatu ketika ada seorang ibu yang mau menikahkan seorang putrinya [yang tak lain adalah hasil hubungannya dengan seseorang dengan cara nikah Mut'ah]. Sang ibu menanyakan keputrinya perihal perencanaan pernikahan tersebut.
Lalu putri ibu tersebut pun menjawab sembari menangis,Ibu, saya telah menikah mut'ah dengan si pulan. Mendengar itu,sang ibu pun turut menangis dan berkata si pulan itu adalah bapakmu,yang telah menikahi ibumu juga dengan cara nikah mut'ah..

Duhai diri ...

Andai sebanyak ini hartamu..
Seberapa banyak yang bisa mengenyangkanmu?
Kau katakan "ini hartaku...ini hartaku.."
Adakah yang benar-benar menjadi milikmu
Kecuali sebatas apa yang mengenyangkan dirimu
Juga yang engkau pakai lalu usang dimakan waktu?

Yang engkau sedekahkan, itulah sejatinya milikmu
Yang berguna hingga setelah matimu