My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Ahsin Kama AhsanAllahu Ilaika

By Saief Alemdar
Aku duduk di ruang tamu, musim dingin, di luar sana udaranya menusuk sampai ke sumsum. Tapi aku duduk di ruangan itu sendiri, ditemani secangkir teh dan pastinya di pojokan ada heater, yang menmbuat ruangan itu hangat. Aku membolak balik-balik buku yang sedang ku pegang, menikmati kesunyian malam. Semua kumiliki, tak ada yang kurang dalam hidupku, paling tidka sampai saat ini.

Mulutku mengucapkan “Alhamdulillah…”, pujian syukur itu keluar dari relung hatiku paling dalam. Tapi, tiba-tiba aku tersentak berpikir, “Alhamdulillah..” itukan bukan kalimat yang hanya keluar dari mulut, bukan pujian syukur basa-basi, bukan kalimat yang diulang-ulangi ribuan kali, tetapi “Alahmdulillah” itu adalah saat kamu memberi kepada orang yang butuh,Alhamdulillah sebagai syukur itu saat orang kaya menyantuni orang miskin, syukur itu saat orang kuat membantu yang lemah, syukur itu saat orang sehat mengobati orang sakit, syukur itu saat seorang hakim memutuskan hukuman yang adil. Apakah aku sudha bersyukur atas nikmat Allah hanya dengan “Alhamdulillah” sambil duduk di ruangan hangat sedangkan tetanggaku kelaparan dan kedinginan? Kalaupun tetanggaku tidak mengeluh keadaannya padaku, apakah aku tidak wajib bertanya apa bagaimana keadaanya?

Aku tahu, hanya Tuhan yang mampu membuat seseorang kaya, kalau aku meu menyantuni semua orang miskin, bisa jadi aku sendiri akan miskin! Tapi, semiskin-miskin aku, aku yakin masih ada orang yang lebih miskin. Bagi milyarder seorang yang incomenya 20 juta sebulan ya miskin, tapi bagi seorang pegawai yang gajinya 2 juta sebulan, yang incomenya 20 juta adalah orang kaya. Yang gajinya 2 juta sebulan, jauh lebih kaya dari kuli yang memeras keringat demi 20 ribu. Kuli yang gajinya 20 ribu, lebih kaya dari seorang janda yang tak punya siapa-siapa. Artinya, kaya dan miskin itu relatif, selama kamu masih hidup, selalu saja ada kesempatan bersyukur, karena ada yang lebih miskin dan lebih kurang beruntung darimu.

Seorang yang gajinya 2 juta sebulan, tidak akan berkurang uangnya kalau menyantuni orang miskin 500 rupiah, orang gajinya 20 juta sebulan, tidak akan berkurang uangnya dengan menyumbangkan ke masjid 200 ribu setiap bulan, “ini sumbangan demi Allah”. Jangan kira apa yang kita berikah itu akan hilnag, justru itulah yang akan tersisa. Harta yang kita makan dan kita pakai, itu akan hilang masuk toilet kecuali yang menjadi daging. Adapun yang kita berikah “demi Allah” itulah yang tersisa, setelah kita berikan dia akan pergi menunggu kita untuk menemani kita kelak di alam kubur sampai ke surga.

Saat memberi “demi Allah”, kita sudah menabung di Bank Tuhan, dimana bunganya 700 kali lipat, dan itu 100% bunga halal. Berbeda dengan menabung di bank manusia, yang hanya dapat bunga 5% dan itupun 100% haram. Disamping itu bank manusia tidak aman dari kebakaran, perampokan, ataupun kebangkrutan. Sedangkan bank Tuhan, kekal abadi di sisi-Nya dengan bunga yang pasti 700 kali lipat.

Jangan kira tabungan di bank Tuhan itu akan sia-sia, Allah membalasnya di dunia sebelum di akhirat.  Banyak sekali contohnya, aku akan menyebut sebuah contoh nyata, yang sering diceritakan di Damascus sejak lama, tentang sheikh Salem Mastawy Rahimahullah. Beliau itu bukan orang kaya, kalau sedang jalan di musim dingin, memakai jubah besar dan hangat, kemudian melihat orang miskin kedinginan, beliau melepas pakaian itu dan memberinya kepada orang miskin itu, dan beliau pulang hanya dengan memakai kemeja biasa, disaat udara 4 derajat di Damascus. Suatu hari di bulan Ramadhan, beliau bersama keluarganya menunggu beduk berbunyi, makanan di meja makan sudah disediakan. Tiba-tiba pengemis datang meminta makanan, katanya tidak ada makanan untuk berbuka, akhirnya makanan di atas meja beliau berikan semua! Saat istrinya melihat meja telah kosong, istrinya ngamuk. Sheikh Salim tersenyum saja. Tiba-tiba pintu rumah beliau diketuk, beliau keluar, “ada apa?”, ternyata di depan pintu adalah pembantu Saied Pasha, orang berpengaruh di Damascus. Saied pasha mengadakan buka puasa untuk beberpa pejabat di rumahnya, ternyata pejabat-pejabat itu tidak bisa hadir, akhirnya Saied Pasha marah dan bersumpah tidak boleh ada yang makan bukaan ini, semua dibawa ke rumah sheikh Salem Mastawy! Sheikh Salim senyum dan melirik istrinya, “Lihatlah,sayang..”

Kisah seorang wanita yang diabadikan dalam buku, seorang janda yang hanya memiliki sepiring lauk dan sepotong roti, anak laki-lakinya sedang pergi berdagang. Saat hendak makan, ada pengemis datang, janda itu tidak jadi makan, makannya diberikan kepada pengemis itu, akhirnya diapun tidur dalam keadaan lapar.

Saat anaknya datang, si anak menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia menceritakan dalam perjalanan pulang di tengah padang pasir dia hendak diterkam singa,hampir saja kepalanya masuk dalam mulut singa, kalau tidak ada seorang laki-laki berpakaian putih menolongnya sambil mengatakan, “sesuap dengan sesuap”. “aku tidak paham apa maksud laki-laki itu”, kata si anak.

Si ibu memeluk anaknya dan menanyakan kapan itu terjadi, ternyata kejadiannya pas setelah dia memberi makanannya kepada pengemis, dengan sesuap makanan yang dia berikan kepada pengemis, Allah menyelamatkan anaknya dari mulut singa.

Sedekah itu menolak bala, menyembuhkan penyakit, menjadi solusi buat masalah-masalah, hal ini sudah terbukti, dan banyak juga hadis yang menjelaskan tentang itu. Bagi yang percaya pada Allah, dia percaya bahwa alam ini smeua dibawah kontrol-Nya, dan dibawah kekuasaan-Nya, pasti percaya kalau Dialah yang memberi dan menyembuhkan.

Kalau memberi itu, jangan dengan perasaan merasa tinggi dan sombong. Senyuman kecil saat memberi, meskipun Cuma 500 rupiah, jauh lebih menyejukkan hati penerima daripada pemberian 100 ribu sambil ngomel dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan penerima.

Diantar pintu sedekah yang jarang kita perhatikan, mungkin karena sepele, yaitu tidak terlalu pelit saat membeli sesuatu. Sama pedagang sayur keliling saja kita sampai berjama-jama tawar menawar. Berapa sih keuntungan tukang sayur yang dengan susah payah keliling kampung menjual sayur-sayuran itu? Apa salahnya kalau kita lebih kan harganya 100 rupiah, atau 500 rupiah,mungkin kalau harga bayam 2000 rupiah yang dijual ke kita, dia hanya untung 200 rupiah. Permudahlah urusan mereka, kalaupun aslinya bayam bukan 2000, anggap saja itu sedekah, sedekah seperti ini jauh lebih afdhal daripada sedekah kepada pengemis.

Diantara pintu sedekah lainnya, seorang guru atau wali kelas hendaknya berpikir kembali saat membebankan murid-muridnya untuk membeli sesuatu yang sekiranya tidak terlalu penting, harus punya tempat pensil lah, harus punya buku tulis jenis tertentu, atau apalah yang tidak ada pengaruh besar pada pelajarannya. Ya, mungkin tempat pensil Cuma 20 ribu, tapi apakah semua wali murid orang yang dengan dapat 20 ribu? Terkadang demi menyekolahkan anaknya, orangtua harus tidak makan. Ya mungkin ini simple dan relatif, seperti yang kita katakan sebelumnya. “apa sih 20 ribu”, begitu kata ibu guru yang gajinya 3 juta sebulan. Seorang milyarder mengatakan kepada biu guru itu, “apa sih 10 juta itu, kecil!”.

Kesimpulannya, siapa yang ingin dimudahkan urusannya, maka mudahkanlah urusan orang lain. Kalau mau Maha Kaya menyantunimu, santuniulah orang yang lebih butuh santunanmu, cintailah orang lain seperti kamu mau orang lain mencintaimu. Syukur itu tidak hanya dengan ucpana “alhamdulillah” saja, seandainya seorang mengucapkan “alhamdulillah “ seribu kali, tetapi pelit tidak pernah mau memperhatikan saudaranya yang lain, maka ucapan “alhamdulillah” itu hanya bohong, sama sekali tidak bersyukur.

Bulan ramadhan adalah salah satu momen untuk melakukan hal ini, mewujudkan syukur dalam bentuk aksi, tidak hanya ucapan “alhamdulillah” saja. Ahsin Kama AhsanAllahu ilaika…Berbuat baiklah pada sesama, seperti Allah baik padamu.

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply