My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » » Bentuk Bacaan Takbir Di Hari Raya

Pertanyaan
Mohon penjelasan berdasarkan syariat mengenai penggunaan bacaan takbir hari raya berikut ini: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Allahu Akbar kabîra, wal hamdu lillahi katsîra, wa subhânallahi bukrataw wa ashîla. Lâ ilâha wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wa hazamal ahzâba wahdah. Lâ ilâha illallah, wa lâ na’budu ilâ iyyâh, mukhlishîna lahud dîn. Wa law karihal kâfirûn. Allahumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ âli sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ ashhâbi sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ anshâri sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ azwâji sayyidinâ Muhammad, wa ‘ala dzurriyyati sayyidinâ Muhammad, wa sallim taslîman katsîra.
Hal ini kami tanyakan karena sebagian orang menganggap bahwa bacaan takbir ini adalah bid’ah dan diharamkan.

Jawaban
Mufti Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Mengumandangkan takbir pada hari raya adalah perbuatan yang dianjurkan. Di dalam Sunnah Nabi saw. tidak ada dalil khusus mengenai bentuk bacaan takbir tertentu. Tapi, sebagian sahabat, seperti Salman al-Farisi, membiasakan sebuah bentuk bacaan takbir tertentu, yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Terdapat kelonggaran dalam menggunakan bacaan takbir hari raya ini. Karena teks perintah dalam masalah ini bersifat mutlaq (umum), yaitu:
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Al-Baqarah [2]: 185).
Lafal yang bersifat mutlaq dimaknai sesuai dengan kemutlakannya (keumumannya) itu, sampai ditemukan dalil lain yang membatasinya (taqyîd).

Penduduk Mesir sejak dahulu kala telah terbiasa mengumandangkan bacaan takbir yang biasa kita dengar. Yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Allahu Akbar kabîra, wal hamdu lillahi katsîra, wa subhânallahi bukrataw wa ashîla. Lâ ilâha wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wa hazamal ahzâba wahdah. Lâ ilâha illallah, wa lâ na’budu ilâ iyyâh, mukhlishîna lahud dîn. Wa law karihal kâfirûn. Allahumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ âli sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ ashhâbi sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ anshâri sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ azwâji sayyidinâ Muhammad, wa ‘ala dzurriyyati sayyidinâ Muhammad, wa sallim taslîman katsîra.

Bentuk bacaan takbir ini merupakan bacaan yang benar dan sesuai dengan syarak, sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullah, “Jika seseorang bertakbir sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh masyarakat saat ini, maka itu baik. Jika dia menambahkan takbir itu, maka itu juga baik. Zikir yang ditambahkan ke dalam bacaan takbir yang ada sekarang adalah sesuatu yang saya sukai.”

Penambahan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. serta kepada para keluarga, sahabat, penolong, istri dan keturunan beliau di akhir lafal takbir merupakan sesuatu yang masyruk. Karena zikir yang terbaik adalah zikir yang di dalamnya terhimpun zikir kepada Allah dan Rasulullah saw.. Selain itu, bershalawat kepada Nabi saw. dapat membukakan pintu diterimanya amal saleh. Karena, bacaan shalawat senantiasa diterima, bahkan meskipun shalawat itu diucapkan oleh orang munafik, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Karena amalan tersebut berkaitan langsung dengan makhluk terbaik, yaitu Nabi saw..

Dengan demikian, orang yang menyatakan bahwa orang yang mengumandangkan bacaan takbir yang sudah masyhur ini adalah pelaku bid’ah, maka dirinyalah yang lebih dekat dengan bid’ah. Karena dia telah mempersempit apa yang dilapangkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta membatasi dalil yang mutlaq tanpa alasan.

Dalam hal seperti ini kita mempunyai kelapangan sebagaimana para salaf saleh kita, yaitu dengan menganggap bentuk bacaan tersebut baik, menerimanya dan membiarkannya menjadi tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariah. Larangan sebagian orang terhadap bentuk bacaan takbir tersebut tidaklah perlu diperhatikan dan tidak dijadikan sandaran.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.
Sumber: http://www.dar-alifta.org

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply