My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Hukum Menghajikan Seseorang dengan Biaya dari Harta Warisannya

Pertanyaan
Saya memiliki saudara lelaki yang baru saja meninggal dunia. Ketika masih hidup ia pernah berjanji kepada istrinya untuk melaksanakan haji bersamanya. Tetapi takdir Allah berkehendak lain sehingga ia pun meninggal dunia tujuh bulan sebelum niat itu terlaksana. Namun, istrinya tetap pergi melaksanakan haji dengan ditemani saudara lelakinya sebagai mahram dan sekaligus untuk menghajikan almarhum. Biaya haji tersebut diambil dari harta peninggalan suaminya yang masih dia kuasai. Sisa dari harta warisan setelah dipotong biaya haji itulah yang kemudian dibagi-bagikan kepada ahli waris. Almarhum tidak memiliki keturunan, tapi ia memiliki saudara perempuan kandung.

Beberapa ulama Azhar di tempat saya telah menasehati istri saudara saya itu bahwa ibadah haji harus dilaksanakan dengan harta miliknya sendiri, bukan dari harta warisan almarhum. Namun, dia itu tetap menolak nasehat itu dan bersikeras dengan keputusannya. Ia juga menolak saran agar meminta bantuan salah seorang kerabat kami di Saudi Arabia untuk melaksanakan haji atas nama almarhum. Mohon penjelasan hukum syarak dalam masalah kami ini.

Jawaban
Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Tindakan yang dilakukan oleh istri almarhum adalah tidak benar. Dia tidak mempunyai hak menggunakan harta itu untuk menunaikan haji. Ia juga wajib mengembalikan nilai dari biaya haji yang telah dia ambil dari harta warisan tanpa izin dari ahli waris yang lain. Hal itu karena almarhum hanya menjanjikan kepada dirinya untuk melaksanakan haji, sementara sebuah janji tidak bersifat mengikat secara hukum. Dengan kata lain, janji tidak dapat dijadikan bukti bagi seseorang dalam sebuah perselisihan (kasus), karena tidak menutup kemungkinan jika orang yang berjanji itu masih hidup ia akan menarik kembali janjinya karena suatu alasan. Dan hak-hak dalam harta kekayaan hanya dapat ditetapkan berdasarkan bukti-bukti yang diakui, baik dalam bentuk tertulis ataupun persaksian seseorang.

Jika almarhum belum sempat melaksanakan haji wajib (haji Islam) maka harta peninggalannya boleh digunakan untuk menghajikan dirinya sebelum harta warisan itu dibagikan kepada ahli waris. Sehingga, haji saudara lelaki istri almarhum yang menghajikan untuk alhmarhum adalah sah jika sebelumnya ia telah melaksanakan haji untuk dirinya sendiri. Namun, meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa seluruh kebutuhan perjalanan haji itu diambilkan dari harta peninggalan almarhum, tapi sebatas jumlah paling minimal yang cukup untuk melaksanakan sebuah perjalanan haji, sedangkan selebihnya adalah milik para ahli warisnya. Sehingga biaya selama tinggal di tanah Hijaz yang diambil dari harta peninggalan almarhum adalah untuk hal-hal yang diperlukan saja, sedangkan keperluan di luar itu menjadi tanggungan saudara istri almarhum sendiri.

Namun jika saudara istri almarhum tersebut belum pernah melaksanakan haji, maka dia wajib mengganti uang yang telah dia pakai untuk melaksanakan haji. Haji yang ia laksanakan tetap sah dan dianggap sebagai haji untuk dirinya sendiri bukan untuk almarhum.

Jika almarhum telah melaksanakan haji, maka harta warisan yang ia tinggalkan tidak boleh digunakan sedikitpun untuk biaya pelaksanaan haji itu. Terkecuali jika sebagian ahli waris atau seluruhnya menyumbangkan bagian warisanya kepada orang yang melaksanakan haji untuk almarhum.

Ibadah haji yang dilaksanakan oleh istri almarhum adalah sah tapi ia harus menjaga hak-hak para ahli waris suaminya sebagaimana kami jelaskan di atas. Semua penjelasan ini adalah jika keadaannya sesuai dengan pertanyaan di atas.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.
Sumber: www.dar-alifta.org

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply