My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Hukum Mengqadha Puasa Ramadhan secara Terpisah-pisah

Siklus haid saya datang ketika saya berusia 14 tahun. Setiap bulan Ramadhan tiba saya selalu tidak berpuasa selama tujuh hari, namun saya tidak pernah mengqadhanya setelah bulan Ramadhan selesai. Hal ini terjadi selama bertahun-tahun. Apakah sekarang saya boleh mengqadha hari-hari yang pernah saya tinggalkan itu meskipun sehari atau dua hari saja dalam setiap minggu? Mohon penjelasan tentang hukum syariat dalam masalah ini.

Jawaban : Prof. Dr. Ali Jum‘ah Muhammad
Para ulama sepakat bahwa seorang perempuan yang sedang haid atau nifas diharamkan untuk berpuasa. Jika ia tetap berpuasa maka puasanya tidak sah. Para ulama juga berijmak bahwa perempuan yang haid hanya wajib mengqadha puasanya saja.

Dalam qadha ini, jika seseorang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena adanya uzur, bukan karena keteledorannya, maka ia tidak wajib untuk segera mengqadhanya. Qadha ini boleh dilaksanakan sepanjang tahun selama belum datang bulan Ramadhan yang baru.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Aisyah –radhiyallahu ‘anhâ— mengqadha puasa Ramadhan yang  ia tinggalkan ketika bulan Sya’ban.

Jika seorang perempuan menunda pelaksanaan qadha puasanya hingga datang bulan Ramadhan tahun berikutnya, maka ia wajib berpuasa untuk Ramadhan tahun tersebut lalu mengqadha puasa yang ditinggalkan setelah Ramadhan itu selesai. Menurut ulama Hanafiyah dan Hasan al-Bashri, perempuan tersebut tidak perlu membayar fidyah, baik puasa yang ia tinggalkan itu dikarenakan uzur yang diakui oleh syariat ataupun tidak.

Sedangkan Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa perempuan tersebut cukup hanya mengqadha puasa yang ia tunda qadhanya tersebut jika penundaan itu karena adanya uzur. Namun jika penundaan itu bukan karena uzur sama sekali, maka ia wajib mengqadha dan membayar fidyah. Pendapat inilah yang kami pilih.

Pelaksanaan qadha puasa Ramadhan ini tidak disyaratkan secara berturut-turut, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. mengenai qadha puasa Ramadhan,
إِنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإِنْ شَاءَ تَابَعَ
“Jika ia ingin melaksanakannya secara terpisah-pisah maka dipersilahkan dan jika ia ingin melaksanakannya secara berurutan maka dipersilahkan juga.” (HR. Daruquthni).

Dengan demikian, berdasarkan pertanyaan di atas, penanya diwajibkan untuk mengqadha puasa Ramadhan yang ia tinggalkan selama beberapa tahun terdahulu dan menyegerakan pelaksanaannya sebelum tiba Ramadhan tahun berikutnya.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply