My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Hukum Tidak Berpuasa bagi Orang yang Selalu dalam Perjalanan

Apakah orang yang selalu dalam perjalanan, seperti seorang sopir, dibolehkan untuk tidak berpuasa karena kondisi pekerjaannya itu?

Jawaban : Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Allah SWT memberi keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang melakukan perjalanan yang jaraknya tidak kurang dari dua marhalah atau sekitar 83,5 kilometer. Disyaratkan perjalanan yang ia lakukan ini tidak bertujuan untuk melakukan tindakan maksiat. Syariat Islam mendasarkan rukhshah (keringanan) kebolehan untuk tidak berpuasa ini jika terdapat illatnya (sebab hukum) –yaitu melakukan perjalanan—, tanpa melihat kesulitan yang umumnya terjadi dalam sebuah perjalanan. Melakukan perjalanan dapat dijadikan sebagai illat karena merupakan kondisi nyata dan tetap, sehingga dapat dijadikan sandaran sebuah hukum. Sementara berlaku atau tidaknya suatu hukum tergantung pada ada atau tidaknya illat hukum itu. Sehingga, jika terdapat perjalanan maka ditetapkanlah keringanan itu, dan jika tidak ada perjalanan maka tidak ditetapkanlah keringanan itu.
Adapun kondisi sulit dalam perjalanan, maka ia tidak dapat dijadikan sebagai illat hukum, tetapi lebih tepat disebut sebagai tujuan dari hukum (al-hikmah) yang sifatnya tidak tetap dan berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Oleh karena itu, kondisi sulit tidak dapat dijadikan sebagai sebab sebuah hukum (illat), sehingga hukum keringanan ini tidak dapat dikaitkan atau disandarkan padanya. Allah berfirman,

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah [2]: 185).

Dengan demikian, jika orang yang berpuasa melakukan perjalanan yang bukan bertujuan untuk kemaksiatan, maka ia boleh untuk berbuka, baik perjalanan yang ia lakukan itu menyebabkan kesulitan baginya atau tidak, dan baik perjalanan itu dilakukan sekali saja atau berkali-kali. Sehingga, jika seseorang memiliki pekerjaan yang menuntutnya untuk selalu berpergian, maka kondisi itu tidak dapat menghapus keringanan untuk tidak berpuasanya baginya. Meskipun demikian, Allah SWT menjelaskan bahwa memilih untuk berpuasa adalah lebih baik dan lebih afdal, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah [2]: 184).

Dengan demikian, berpuasa adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya daripada tidak berpuasa jika hal itu tidak menyulitkan. Karena berpuasa di selain bulan Ramadhan tidak sebanding, bahkan tidak bisa mendekati puasa di bulan Ramadhan. Namun apabila orang yang berpergian itu memperkirakan bahwa ia akan mendapatkan kesulitan jika berpuasa, maka makruh baginya berpuasa. Bahkan, jika khawatir dirinya dapat meninggal, maka ia wajib untuk berbuka.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply