My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Mengapa Para Ulama Hidupnya Miskin?

Setiap orang yang melakukan pekerjaan semuanya menginginkan income. Jika kerjanya di tempat orang-orang hebat maka incomenya lebih besar. Jika kerjanya pada pekerjaan yang rendah pasti incomenya sedikit. Misalnya cleaning service pada sebuah instansi tentu lebih sedikit gajinya daripada karyawan-karyawan di instansi tersebut.

Seorang yang bekerja di tempat yang hebat, sebut saja gubernur. Tentu saja perjuangan mereka dalam meraih jabatan sebagai gubernur sangatlah berat. Mulai dari menguras tenaga untuk mencari pendukungnya sampai dengan milyaran uang yang harus dikeluarkan saat berkampanye. Ini tentu sangat berat, maka pasti saja nominal gaji mereka besar-besar. Karena uang yang dihabiskan untuk meraih jabatan itu besar.

Sedangkan ulama dalam berbagai buku sejarah diceritakan kisah menuntut ilmu mereka tidak perlu menghabiskan uang yang besar. Mereka hanya makan ketika lapar, atau bahkan makan sehari semalam sekali saja. Tidak perlu berkampanye untuk meraih titel ulama, karena titel tersebut Allah yang berikan. Mereka adalah orang yang zuhud, tidak tamak dengan harta benda dunia. Gajinya mereka terima dari Allah berupa fahala-fahala. Atau dari pemerintah, itu pun mereka minta sekedar hajatnya saja. Tidak lebih. Makanya mereka miskin-miskin harta, tapi hati dan ilmunya kaya.

Hal ini sesuai dengan perkataan Syehk Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam Safhat Min Sabril Ulamak ," Orang-orang yang bekerja untuk menyampaikan risalah kanabian baik berupa kahtib, imam, pelajar agama, qadhi, muazzin, mereka tidak memerlukan upah yang banyak pada kebiasaan."
By : Abdul Hamid M Djamil
 

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply