My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Mengikuti Gerakan Imam Melalui Pengeras Suara

Pertanyaan
Memperhatikan permintaan fatwa No. 2158 tahun 2004, yang berisi:
Di daerah kami terdapat sebuah masjid yang tempat shalat jamaah laki-laki dipisahkan dari tempat shalat jamaah perempuan oleh sebuah jalan umum yang lebarnya enam meter. Tempat shalat jamaah perempuan juga berada pada posisi yang lebih maju daripada posisi imam.

Dalam keadaan ini, apakah jamaah perempuan boleh mengikuti shalat imam di masjid dengan perantaraan pengeras suara (microphone)? Bagaimana jika tiba-tiba listrik padam ketika mereka sedang melaksanakan shalat? Apakah mereka shalat sendiri dengan seorang imam di antara mereka ataukah mereka melaksanakan shalat secara sendiri-sendiri?

Jawaban
Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Syariat Islam menetapkan bahwa syarat sah menjadi makmum dalam shalat jamaah adalah dapat mengikuti imam dengan mengetahui setiap gerakan perpindahannya baik dengan suara atau melihat secara langsung serta bersambungnya saf. Hal ini sesuai dengan riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. pernah shalat di kamar Aisyah r.a. sedangkan para makmum mengikuti shalatnya dari dalam masjid.

Namun, dalam keadaan darurat dibolehkan untuk melaksanakan shalat berjamaah meskipun terdapat pembatas yang menghalangi bersambungnya saf. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni berkata, “Jika diantara keduanya –maksudnya imam dan makmum— terdapat jalan atau sungai yang dilewati oleh kapal-kapal, atau keduanya shalat dalam dua perahu yang berbeda, maka terdapat dua pendapat. Pertama, tidak sah bermakmum kepada imam itu. Ini adalah pendapat para ulama kami dan pendapat Abu Hanifah. Hal itu karena jalan bukanlah tempat untuk shalat sehingga serupa dengan sesuatu yang menghalangi bersambungnya saf. Kedua, sah bermakmum kepadanya. Ini adalah pendapat yang benar menurut saya, dan merupakan pendapat Malik dan Syafi’i. Hal itu karena tidak ada dalil (nash) yang melarangnya, tidak pula ijmak atau sesuatu yang serupa denganya. Hal ini karena kondisi di atas tidak menghalangi makmum mengikuti imam, sedangkan yang mempengaruhinya keabsahannya adalah sesuatu yang menghalangi penglihatan atau pendengaran.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka menurut syarak tidak ada halangan bagi jamaah perempuan untuk bermakmum dari tempat mereka kepada imam yang ada di masjid jika terpenuhi syarat-syarat dalam bermakmum, seperti mampu mengikuti imam dalam setiap gerakan perpindahannya meskipun melalui pengeras suara (microphone). Jalan yang memisahkan antara kedua tempat shalat itu harus ditutup selama pelaksanaan shalat. Selain itu, posisi shalat jamaah perempuan juga harus berada sejajar atau di belakang posisi imam. Jika tiba-tiba listrik padam ketika sedang melaksanakan shalat sehingga jamaah perempuan tidak dapat mengikuti gerakan imam, maka mereka menyempurnakan shalat mereka secara sendiri-sendiri karena kondisi darurat itu. Selain itu, karena seseorang tidak boleh menggantikan posisi imam kecuali imam menunjuk untuk menggantikannya. Jika semua itu dilakukan maka shalat mereka adalah sah dengan izin Allah.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam
Sumber:
dar-alifta.org

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply