My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

Pertanyaan
Memperhatikan permohonan fatwa melalui internet yang terdaftar dengan nomor 456 tahun 2004 yang berisi:

Saya seorang gadis yang memiliki gigi taring yang menonjol keluar. Gigi saya itu tampak jelas terutama ketika saya tertawa. Hal ini membuat saya mengalami tekan psikis, sehingga terkadang saya terpaksa menahan diri agar tidak tertawa. Apakah saya boleh untuk meratakan gigi saya yang menonjol tersebut?

Jawaban
Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Allah telah menciptakan manusia dan memuliakannya melebihi makhluk-Nya yang lain. Allah SWT juga memerintahkan manusia untuk tidak merubah bentuk ciptaan-Nya jika tindakan itu mengandung penentangan terhadap takdir-Nya, dan Allah mengategorikan perbuatan itu termasuk perbuatan setan. Allah berfirman,

“Dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (An-Nisâ` [4]: 119).

Dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, dia berkata, “Semoga Allah melaknat para wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, para wanita yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan bulus alisnya, para wanita yang mengikir giginya supaya indah, (yaitu) para wanita yang mengganti ciptaan Allah.” Pernyataan Ibnu Mas’ud itu kemudian terdengar oleh seorang perempuan dari Bani Asad yang bernama Ummu Ya’qub. Dia lalu mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata, “Saya mendengar bahwa engkau melaknat wanita yang melakukan ini dan itu.” Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Mengapa saya tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw.”. (Muttafaq ‘alaih). Laknat sendiri adalah pengusiran dari rahmat Allah, dan hal ini hanya berlaku pada perbuatan dosa besar.

Ditetapkan juga dalam kaidah syariah bahwa kemudaratan harus dihilangkan. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah saw.,
“Tidak boleh membuat kemudaratan atas diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan lainnya).
Dengan demikian, memperbaiki susunan gigi dengan meratakannya bukan termasuk tindakan mengubah ciptaan Allah dengan syarat dilakukan di bawah pengawasan dokter muslim yang dapat dipercaya. Berdasarkan pertanyaan di atas maka penanya dibolehkan untuk meratakan giginya.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.
Sumber: dar-alifta.org

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply