My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Siapakah Yang Wajib Memberi Nafkah Kepada Anak-anak ?

Pertanyaan
Memperhatikan permintaan fatwa No. 2287 tahun 2006, yang berisi:
Jika seorang ayah mempunyai gaji pensiun dan dia juga mempunyai seorang anak yang masih dalam masa studi, apakah memberi nafkah kepada anak tersebut merupakan kewajiban sang ayah ataukah anaknya yang paling besar karena dia adalah tulang punggung keluarga? Dan apakah seorang ayah wajib memberi nafkah kepada anak perempuannya yang telah balig tapi belum mempunyai pekerjaan?

Jawaban
Dewan Fatwa
Para ulama sepakat bahwa seorang ayah wajib memberi nafkah kepada anak kandungnya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT,
“Dan kewajiban ayah (al-mawlûd lahu) memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 233).

Al-Mawlûd lahu (orang yang mendapatkan anak) adalah sang ayah. Allah SWT mewajibkan atasnya memberi nafkah kepada istri adalah karena adanya anak. Dengan demikian, kewajibannya memberi nafkah kepada anak adalah lebih utama. Kewajiban ini juga didasarkan pada sabda Nabi saw. kepada Hind, istri Abu Sufyan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,
خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدِكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Ambillah secukupnya untuk dirimu dan anakmu dengan sepatutnya.”

Seandainya memberi nafkah kepada anak bukan kewajiban seorang ayah, niscaya Nabi saw. tidak akan membolehkan Hind mengambil uang suaminya, karena harta seorang muslim dilindungi oleh syariat. Syarat kewajiban seorang ayah memberikan nafkah kepada anaknya adalah kondisi keuangannya dalam keadaan baik (tidak dalam kesulitan ekonomi), atau dia mampu memperoleh nafkah yang lebih dari kebutuhan dirinya sendiri.

Kewajiban memberi nafkah ini tidak gugur kecuali jika sang ayah sudah tidak mampu lagi menunaikannya, sehingga kebutuhannya sendiri ditanggung oleh orang lain, baik oleh orang tuanya atau oleh anak-anaknya (keturunannya). Dalam keadaan ini, kewajiban tersebut menjadi gugur dan dirinya dianggap seperti tidak ada. Karena tidak sepatutnya membebankan kewajiban kepadanya untuk memberi nafkah kepada orang lain sedangkan kebutuhannya sendiri ditanggung oleh orang lain.

Berkaitan dengan kewajiban seorang ayah memberi nafkah kepada anaknya, para ulama menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang ikut bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban ini bersama sang ayah. Karena seorang anak dinisbatkan kepada ayahnya, dan anak itu adalah bagian dari dirinya. Sehingga kewajiban ini tidak gugur darinya. Oleh karena itu, menghidupi anaknya merupakan suatu kewajiban baginya, dan kewajiban ini tidak gugur kecuali jika dia sudah tidak mampu lagi.

Jika sang ayah dalam kesulitan ekonomi dan tidak mempunyai pekerjaan, maka kewajiban ini dialihkan kepada orang yang bertanggung jawab memberi nafkah jika tidak terdapat ayah, seperti kakek, saudara, paman dan anak-anak mereka. Nafkah yang mereka berikan ini menjadi beban hutang atas sang ayah yang wajib dilunasi ketika sudah mampu.

Nafkah wajib diberikan kepada anak-anak jika mereka tidak mempunyai harta ataupun pekerjaan. Anak yang mampu mendapat pekerjaan tidak wajib diberi nafkah oleh ayahnya. Seorang anak yang masih dalam jenjang pendidikan, dalam masyarakat kita dianggap tidak mampu bekerja karena disibukkan dengan belajar yang dengannya dia akan mampu bekerja di masa yang akan datang.

Yang dipraktikkan dalam fatwa dan qadha (keputusan pengadilan di negara Mesir, Penj.), kewajiban memberi nafkah juga diwajibkan atas kerabat dekat (hawasyi), seperti saudara (baik laki-laki ataupun perempuan), anak-anak mereka dan para paman serta bibi (baik saudara ayah maupun ibu). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,
“Dan ahli warispun berkewajiban demikian.” (Al-Baqarah: 233).

Dalam bacaan Ibnu Mas’ud yang syâdz (tidak mutawatir) ayat di atas dibaca, “Dan ahli waris yang mempunyai hubungan kerabat, berkewajiban demikian.” Ini adalah pendapat ulama mazhab Hanafi. Tapi, kewajiban itu berlaku jika seseorang dalam keadaan mampu dalam sisi keuangan, bukan mampu untuk bekerja. Karena, kewajiban memberi nafkah kepada kerabat adalah salah satu bentuk menjalin hubungan silaturahmi, dan menjalin hubungan silaturahmi dengan cara ini tidak wajib atas orang yang tidak mampu dalam sisi keuangan. Selain itu, disyaratkan pula adanya keputusan pengadilan. Dalam kitab al-Badâi’ ash-Shanâi’ dijelaskan, “Ketiga –dari syarat-syarat orang yang diberi nafkah—: Adanya tuntutan dan perselisihan yang diangkat kepada hakim dalam salah satu jenis pemberian nafkah, yaitu nafkah kepada selain anak. Sehingga, nafkah ini tidak wajib [ditanggung oleh hawasyi] kecuali dengan adanya tuntutan tersebut. Karena nafkah ini tidak wajib kecuali dengan keputusan pengadilan, sedangkan keputusan pengadilan tidak akan dikeluarkan kecuali dengan adanya tuntutan dan perselisihan.”

Dengan demikian, berdasarkan pertanyaan di atas, memberi nafkah kepada anak yang masih dalam masa studi dan anak perempuan yang telah balig tapi belum mendapatkan pekerjaan, adalah masih menjadi kewajiban seorang ayah yang telah memasuki masa pensiun jika gaji pensiunnya dapat mencukupi keperluan keduanya. Namun, jika gaji pensiun tersebut tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan itu, maka hendaknya dia memberi nafkah semampunya kepada keduanya untuk menutupi sebagian kebutuhan mereka, dan anaknya yang paling besar wajib menutupi kekurangannya bila dia mampu. Jika gaji pensiun sang ayah tetap tidak cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan tersebut, maka yang bertanggung jawab mencukupinya adalah anaknya yang paling besar jika dia mampu menutupinya. Anak ini boleh menuntut sang ayah terhadap apa yang dia berikan jika ayahnya telah mampu.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.
Sumber:
dar-alifta.org

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply