My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Syaikh al-Azhar kedua puluh tujuh: Syaikh Abdurrahman al-Syirbini (wafat tahun 1334 H/1926 M)

[Biografi Syaikh al-Azhar]

Syaikh al-Azhar kedua puluh tujuh: Syaikh Abdurrahman al-Syirbini (wafat tahun 1334 H/1926 M)

Beliau adalah al-Imam Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad al-Syarbini, lahir di desa Syirbin Propinsi Daqhaliyah.

Di al-Azhar beliau berguru kepada para ulama terkemuka. Sejak masih belajar, oleh para guru beliau dikenal sebagai murid yang bertaqwa, berkelakuan baik, zuhud dan giat mendalami ilmu agama dari sumber-sumber yang terpercaya. Kemudian beliau diberi kepercayaan oleh para ulama untuk mengajar di al-Azhar.

Syaikh Abdurrahman al-Syirbini adalah seorang pakar fikih Syafi’i yang zuhud. Berulang kali beliau diajukan sebagai calon Syaikh al-Azhar, namun beliau selalu menolaknya. Namun pada akhirnya, beliau tidak bisa menolak lagi dan diangkat menjadi Syaikh al-Azhar pada 12 Muharram 1323/1905 menggantikan Syaikh Ali Muhammad al-Bablawi.

Beliau termasuk ulama yang tidak mendukung gerakan pembaharuan di tubuh al-Azhar yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abduh. Karenanya, di awal kepemimpinan beliau, penguasa Mesir sangat menyukai kebijakan-kebijakan beliau yang berusaha membendung gerakan pembaharuan. Menurut beliau, tujuan ulama para pendiri al-Azhar adalah menjadikan al-Azhar sebagai tempat untuk beribadah, tempat menimba ilmu syariat, dan tempat menjaga agama Islam. Adapun hal-hal selain itu tidak ada hubungannya dengan al-Azhar. Selain itu, kebijakan beliau membendung gerakan pembaharuan adalah untuk menyelamatkan al-Azhar, para ulama dan murid-muridnya dari kedzaliman penguasa, karena penguasa saat itu sangat anti terhadap gerakan pembaharuan. Penguasa saat itu juga membekukan gaji para guru dan ulama dan mengancam akan menghancurkan bangunan al-Azhar.

Kebijakan-kebijakan yang beliau lakukan adalah ijtihad dari keyakinan beliau sendiri. Semuanya demi kemaslahatan al-Azhar dan umat Islam. Menurut beliau, al-Azhar harus dijauhkan dari ilmu dunia supaya tidak tercampur dengan urusan politik dan kekuasaan.

Al-Azhar pada di masa kepemimpinan Syaikh Abdurrahman al-Syirbini berada dalam cengkraman penguasa yang diktator. Penguasa selalu ingin urus campur dalam masalah internal al-Azhar. Sampai ketika sudah sangat keterlaluan, Syaikh Abdurrahman al-Syirbini mengundurkan diri pada bulan Dzulhijjah tahun 1324 H. Kemudian Syaikh Hasunah al-Nawawi diangkat lagi menjadi Syaikh al-Azhar untuk kedua kalinya, dan merubah kebijakan Syaikh Abdurrahman al-Syirbini dengan mendukung gerakan pembaharuan dalam tubuh al-Azhar.

Karya-karya Syaikh Abdurrahman al-Syirbini, di antaranya:
-Taqrir ‘ala hasyiyah al-banani ‘ala syarh al-mahalli ‘ala jam’il jawami’ li al-subki (ushul fikih)
- Taqrir ‘ala hasyiyah ibnu Qasim ala Syarh Syaikh Zakaria al-Anshari li matn al-bahjah al-wardiyah
-Taqrir ‘ala hasyiyah “Abdul Hakim” ala Syarh al-salakuni ‘ala syarh al-qutb ‘ala al-syamsyiah (mantiq)

Setelah mengabdi kepad al-Azhar dan umat Islam, Syaikh Abdurrahman al-Syirbini wafat pada tahun 1334 H/1926 M.
Sumber: al-Azhar al-Syarif fi dhaui sirati a’lamihi al-ajilla, karya Dr. Abdullah Salamah Nasr dan sumber-sumber yang lain.

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply