My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Memberhalakan Tuhan

Penulis: Zahrul Bawady M Daud, Mahasiswa Aceh di Al-Azhar, Staff Studi Informasi Alam Islami

Beberapa waktu lalu kita kembali dikejutkan dengan ulah nista salah seorang oknum kepala sekolah menengah pertama di Aceh Utara. Kelakuan yang sangat tidak patut ditiru. Tanpa memperhatikan kode etik pendidik, ia dengan beraninya menggagahi murid perempuannya. Kontan saja kejadian tersebut kembali mencoreng wajah pendidikan kita yang memang sudah terpuruk.

Perbuatan bejat yang disebut dilakukan “suka sama suka” tetap tidak bisa melepas pelaku dari sanksi atas perbuatan amoral kepada korbannya. Harus ada investigasi yang lebih mendalam. Walaupun berakhir damai,  tetap saja pengambil kebijakan harus bertindak cepat. Selain sanksi moral yang memang sudah layak diterima, pelaku juga perlu dicopot dari jabatan serta profesinya sebagai guru, sebagaimana diusulkan Dinas Pendidikan Aceh Utara kepada Bupati setempat. Hal ini begitu penting agar kasus serupa tidak menular kepada aparatur pemerintahan yang lain.

Mungkin kita akan terpaku, kemana naluri seorang pendidik ketika berani melanggar perbuatan asusila nan tercela. padahal sebagai pemimpin salah satu instansi pendidikan, seyogyanya ia menjadi teladan bagi masyarakat, apalagi kepada murid muridnya.

Kenyataannya, kejadian di atas hanya sebagian kecil perilaku asusila yang terungkap kepada khalayak ramai. Masih sangat banyak perilaku menyeleweng lain yang pernah dilakukan oleh abdi negara. Ironi bagi rakyat, menabung uang melalui pajak demi menonton aksi-aksi berlumpur dosa dari pejabat negeri ini. Berapa banyak sudah koruptor yang dilahirkan “sekolah” pemerintahan kita, menjadi indikasi bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan.

Premis yang menumpuk hanya akan menjadi bukti bahwa ada sisi pendidikan yang terabaikan. Pembelajaran yang berjalan satu arah dan temporary (terbatas) menjadi alasan yang sangat kompleks untuk melakukan pembenahan model pendidikan. Sudah cukup generasi bangsa ini kalah, jangan sampai berlanjut hingga generasi berikutnya.

Berhalaisme Tuhan

Kejadian yang menimpa bangsa kita hanya akibat yang muncul dari gejala yang lebih hebat. Ketika sesuatu yang menjadi pegangan tidak lagi menjadi pedoman, maka akan muncul penyakit baru yang efeknya terus menyebar. Seorang kepala sekolah yang tega melakukan perbuatan tercela sama saja mengkhianati jabatan, keluarga dan masyarakat. Ketika itu, janji dan sumpah setia memikul amanah rakyat lenyap ditelan nafsu.

Hilangnya amanah dalam diri jika dibaca melalui nalar teologis merupakan kehilangan Tuhan yang menjadi tempat berpegang. Dalam keadaan ini, Tuhan seolah tidak berfungsi bagi jiwa manusia. Manusia kosong dari suplemen keimanan yang bersifat meyakini. Manusia dengan model ini hanya menempatkan Tuhan sebagai berhala.

Karakteristik berhala yang disembah oleh orang non-muslim adalah manifestasi daripada menyembah yang tiada, baik secara fungsi maupun berlandaskan asas manfaat. Bagaimana mungkin seseorang menyembah patung yang tidak akan memberi manfaat, bahkan merekalah yang menciptakan patung-patung tersebut.

Propaganda sistemik Ibrahim dalam menghancurkan patung-patung yang dihegemoni oleh Namrud adalah landasan bahwa berhala itu tidak membawa dan memberi manfaat kepada manusia. Kejadian yang diilhami oleh Ibrahim analog dengan kisah kepala sekolah yang kehilangan naluri sebagai pendidik.

Berhala tidak memiliki daya apapun terhadap manusia, namun tetap menjadi sesembahan kaum pagan, sindrom ini kemudian menjangkiti orang dengan perilaku amoral, dia kehilangan Tuhan tempat ia menyandarkan diri. Manusia seperti ini akan merasa bahwa Tuhan sama seperti berhala, dapat ditundukkan dengan sebilah kapak untuk memustahilkan kewujudannya. Kepercayaan seperti ini yang ingin penulis sebut sebagai berhalaisme Tuhan.

Fenomena ini sejalan dengan hadis nabi, “akan datang kepada ummatku suatu masa, dimana Islam tidak tersisa melainkan hanya namanya saja” (HR. Muslim). Berbagai laporan yang ditampilkan media baik cetak ataupun elektronik terkait tindakan kriminal menjadi pertanda bahwa hadis tersebut sedikit demi sedikit mulai menunjukkan kebenarannya.

Kebanyakan kita hari ini menyembah tuhan yang tidak memiliki kekuatan. Ruh rabbani sama sekali tidak membekas dalam jiwa kita sebagai seorang muslim. Ber-KTP-kan Islam, kita masih saja enak berperilaku korup, amoral dan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.

Seharusnya beragama menjadi dasar kemanusiaan. Tujuan diturunkannya syariat Islam yang harus memenuhi tuntutan maqashid syar’iyah adalah untuk membendung dehumanisasi. Akan tetapi, saat ini agama hanya menjadi teori non-aplikatif, murni sebagai sebuah khayalan yang menjadi cerita di luar nalar, persis adigum yang berkembang “mangat na, meurasa tan.”

Secara konseptual, pendekatan pengukuran nilai-nilai kemanusiaan melalui tataran teologis adalah suatu keniscayaan. Terlebih kepada manusia ilmu (orang berpengetahuan) dimana harus memikul tanggung jawab lebih besar. Pengenalan terhadap Tuhan adalah bentuk konkrit dari pengakuan eksistensi alam beserta manusia yang menjadi khalifah. Bagaimana seseorang akan mengerti dasar ketuhanan, jika untuk mengenal diri dan lingkungannya saja tidak mampu.

Mengutip Muhammad Iqbal (1985), beragama tidak bisa hanya kendaraan untuk mencapai kesadaran mistik (ghaib), tetapi harus memiliki nilai profetik yang dikejewantahkan dalam perilaku sehari-hari. Tindakan seorang penganut agama paling tidak akan menggambarkan sejauh mana keyakinannya kepada Tuhan yang disembah.

Profetisme dalam tindakan seorang muslim mengandung spektrum maqashid syar’iyah yang dijabarkan dengan dharuriyah khamsah (lima kepentingan primer), yaitu menjaga harta, keturunan, akal, jiwa dan yang terpenting adalah agama. Dalam tahapan ini, agama memegang kunci subyektifvitas sudut pandang berlandaskan kepada tahapan sosial yang berlaku, dengan mempertimbangkan aspek-aspek terkait istinbath (pengambilan) hukum.

Jika Gramsci dengan semangat bios theoritikos memanfaatkan kemampuan berwacana dengan tindakan nyata perlawanan terhadap despotik dan totalitarian, sebenarnya Nabi Muhammad telah lebih dulu membentuk sebuah ummat percontohan yang egaliter, melabrak kapitalisme bangsa Mekkah dengan konsep alternatif atqâkum: yang mendapat derajat tinggi adalah orang yang bertakwa.

Takwa dalam arti yang luas, tidak hanya menjadi ‘abid (ahli ibadah) tetapi menjadi partisipator dan pendorong untuk melawan kezaliman. Tuhan tidak hanya berada di akal, tetapi terbukti melalui perbuatan. Benar-benar Tuhan yang karenanya kita melakukan kebajikan. Tidak hanya Tuhan yang kita sambangi ketika ditimpa musibah saja.

Saatnya kita mengubah paradigma Islam yang eksklusif, tidak hanya berkutat di mesjid atau majelis dakwah. Islam harus menjadi agama yang inklusif-transformatif, bisa menjadi social capital (modal sosial) menuju masyarakat Aceh yang madani, karena Tuhan kita bukan berhala. Semoga!

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply