My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » Sampaikan Kepada Manusia Sesuai Dengan Kemampuan Akalnya

Siapa yang belum mengenal orang China? sejarah mencatat bahwa etnis kulit putih ini telah memulai peradabannya sejak ribuan tahun sebelum masehi dan masih terasa gaungnya hingga abad 21 ini, mereka terus tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di kota Khartoum saja misalnya, keberadaan mereka tidak mempan lagi di hitung pakai jari, ada yang menjadi pelajar, kuli bangunan, pedagang, bahkan ada juga yang berprofesi sebagai bos,,hmm,,jadi pembesar di Negeri orang, siapa takut !! kesungguhan yang  dimiliki mengantarkan mereka sekarang menjadi masyarakat mandiri dan produktif membumikan karyanya. Ga usah jauh-jauh lah,,coba lihat aja Hp, laptop, baju, celana atau apa sajalah yang mana barang itu dijual, dominannya tertulis “made in China”. Coba cek hape anda sekarang !!

Afrika, benua dimana mayoritas orang berkulit hitam hidup. Sebagian orang menganggap mereka masyarakat rendahan, miskin, dan menyeramkan. Pernahkah anda mendengar sayyiduna bilal bin rabbah, sahabat Nabi Saw yang terompah (sandal) nya terdengar dari dalam syurga? Kisah ini seakan menegur kita bahwa bentuk tubuh, rupa bukan menjadi jaminan untuk masuk syurga, mau hitam atau putih kulit luar kita, Allah tetap melihat seorang hamba itu dari hatinya. Kali ini kita tidak membahas tentang sayyiduna Bilal tersebut, namun ada hal lain yang akan anda temukan dalam untaian kalimat sederhana berikutnya.

Sudan yang menjadi tempat bertemunya dua kebudayaan besar Arab dan Afrika menjadi daya tarik tersendiri bagi para pedagang untuk berkiprah disini. Sering kita jumpai barang-barang yang dijual disini kebanyakan didatangkan dari China, sampai barang khas daerah pun didatangkan dari sana seperti peci, jilbab, jalabiyah dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan, kenapa barang- barang China bisa tesebar disini bahkan hampir di seluru dunia.

Bagi para da’i ada sebuah kaidah yang berbunyi ( خاطبوا الناس على قدر عقولهم) “khatibu an-anasa ala qadri ‘uqulihim”,artinya sampaikan (berkomunikasilah) kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka. Barangkali inilah kaidah yang sedang dipakai oleh orang China untuk menarik hati para konsumennya di Sudan, diantara jurus mereka adalah menjual barang dengan harga yang murah meriah. Berjualan membutuhkan kesabaran, keuletan dan keseriusan. Itulah yang mereka tekuni disini. Bagaimana  mungkin barang dagangan akan laris terjual kalau tidak mengetahui minat pasar dan kebutuhan masyarakat. Sebagus apapun kualitas barang yang dijual kalau tidak sesuai dengan minat pasar, barang tersebut tidak akan laku bahkan rugi. coba lihat kemahiran orang China dalam “meng-china-kan” pasar. Di Mesir ada daerah bernama Attaba, disana mereka tidak segan-segan berjualan hape second di emperan toko, dengan kemampuan bahasa Arab yang terbata-bata dan bermodalakan sebuah kalkulator untuk transaksi harga mereka mampu meyakinkan pembeli  bahwa barangnya bermutu dan terjangkau harganya. Hari ini mereka di emperan, besok lusa emperan itu menjadi teras toko barunya.

Menyampaikan pemahaman ilmu agama layaknya berjualan. Pandai saja tidak cukup, namun membutuhkan tehnik khusus dalam menyampaikan. Banyak orang yang ilmunya sangat luas, tapi ketika sending ilmu dilakukan terjadi failed yang tidak diinginkan. Guru kami mengatakan bahwa audience itu akan melihat penting tidaknya penyampaian kita dalam hitungan 5 menit pertama, bila dalam 5 menit pertama, kita dapat meyakinkan akan pentingnya materi yang disampaikan, maka audience  pun akan setia bersama kita sampai salam penutup.

Mengajari seorang muallaf misalnya membutuhkan cara tersendiri untuk menanamkan nilai –nilai keislaman ke dalam jiwanya. Seperti wudhu’,  pada awalnya kita tidak perlu menjelaskan perbedaan pendapat ulama yang beraneka ragam atau dengan kata lain, kita cukup menjelaskannya dengan simple sesuai dengan kemampuan daya tangkapnya waktu itu. Kalau terlalu ribet, boleh jadi esok lusa dia akan kembali lagi ke masa lalunya. Kejadian yang terjadi belakangan ini sangat disayangkan, ada segelintir orang yang mensajikan ilmunya ke tengah masyarakat  dengan cara yang belum tepat. Gampang  sekali mensesatkan bahkan mengkafirkan sesama muslim. Kalau begitu adanya kaum muslimin yang tertinggal di bumi hanya sedikit saja. Na’uzubillah. Seharusnya cara semacam itu tidak boleh terjadi.

Selama lebih kurang lima tahun berada di timur tengah, baru kali ini kami tersentak ketika mendengar seorang yang berceramah di depan jamaah setelah usai shalat Maghrib di sebuah mesjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Uslubnya keras sampai memvonis sesat muslim yang tidak seide dengannya, seakan yang benar hanyalah kelompoknya. Tidak ada hikmah dan mau’idhah hasanah dalam orasinya, kalau ini terjadi di kampung kami bisa-bisa orang seperti dia menjadi amukan warga. Lagi-lagi “ala qadri ‘uqulihim” patokannya, kalau tidak, terjadilah apa yang terjadi.

Fenomena

Sudah diketahui bersama didalam masyarakat kita tidak hanya hidup satu kelompok manusia. Bahkan dalam satu kelompok saja terdapat corak pola pikir yang beraneka ragam, ada yang tua, muda, pria dan wanita. Ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan yang berbeda bahkan ada yang tidak berpendidikan. Apakah sama retorika penyampaian kepada anak TK dan mahasiswa? tentu tidak sama bukan. Di suatu kampung beberapa pemuda yang hidup jauh dari nuansa keagamaan, suatu ketika mereka sedang berpesta pora diiringi musik disko yang keras mereka pun bersuka ria, lalu tiba-tiba datanglah seorang pemuda, setelah mematikan musik disko dengan lantang dia berkata “ini haraaaaammm..hararaaammm!!”. Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Paling tidak dia harus ambil cuti seminggu di rumah sakit.

Pada hakikatnya kita semua adalah da’i, artinya yang mengajak kepada Islam, sekurang-kurangnya mengajak diri sendiri untuk melangkah ke arah yang lebih baik, baru selanjutnya orang disekitar kita. Orang yang mengajak tentunya harus lembut, bijak sehingga maklumat yang disampaikan mudah diterima, bila seorang da’i sudah dicintai, apa yang diperbuat olehnya akan diikuti dan seakan yang terdengar dari mulutnya adalah kata mutiara yang patut dicatat dan diaplikasikan. Ibnu Abbas menafsirkan ayat “kuunu rabbaniyyin” yang bermaksud, jadilah orang yang bijak lagi berilmu, Imam Bukhari berkata, “Rabbani adalah orang yang mendidik manusia mulai dengan ilmu yang mendasar kemudian melangkah kepada ilmu yang lebih mendalam”.

Mentransfer sesuatu kepada orang lain bukan hanya dengan lisan (da’wah bil maqal) yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang,  namun bisa dilakukan juga melalui tulisan. Tulisan menjadi salah satu sarana yang tepat untuk menyampaikan ide-ide berharga ketika penulis dapat menyihir para pembaca dengan kata-katanya seakan dia masuk ke dunia mereka. Tidak mengherankan bila ada tulisan-tulisan Ulama yang ditunggu-tunggu kehadirannya bahkan dicetak berulang kali karena sarat akan nilai yang mulia. Yang terakhir  ialah berkomunikasi dengan prilaku/akhlaq atau sering disebut dengan da’wah bil hal yang mana tidak semua orang mampu melakukannya. konon katanya, di sebuah pondok pesantren, ada seorang ustaz yang dicintai dan disegani oleh santrinya dikarenakan kemuliaan akhlaknya. Ketika masa ujian diadakan beliau mengawasi ruang ujian, karena ada keperluan, beliau keluar sebentar, tapi sebelumnya beliau meletakkan peci hitamnya diatas meja pengawas sebagai syarat beliau ada, walau hanya peci yang ditinggal ujian tetap berlangsung dengan disiplin sebagaimana Ustaz  itu ada. Hmm..kalau sekarang, ada pengawas atau tidak, sama saja keadaannya, bahkan yang lebih menggemaskan lagi, pengawas sendiri yang bagi-bagi jawaban dengan alasan sekolahnya harus lulus semua siswanya. Bagaimana mau maju Negara ini, di sekolah saja sudah diajarkan ketidak jujuran.

Begitu halnya dengan isi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan. Apabila diatas kemampuan nalar pikiran peserta didik  akan berkibat fatal. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di ranah pendidikan kita yaitu beredarnya buku pelajaran yang memuat materi yang tidak sesuai dengan dunia mereka, bagaimana akan menjadi penerus generasi bangsa yang berbudi tinggi dan berakhlaq luhur kalau pendidikan diusia dini sudah tercemar dengan hal-hal yang negatif. Imam Al-Ghazali didalam kitabnya Ihya’ menuturkan “ seorang pelajar harus diajarkan sesuai dengan kadar pemahamannya, maka janganlah menyampaikan sesuatu kepadanya yang tidak mampu dicerna oleh akal karena akan membuat jemu dan bahkan merusak akalnya”(ihya’ 1/57).

Masih dalam ruang lingkup komunikasi. Dalam tatanan kehidupan keluarga, komunikasi yang baik lagi lembut sangat dibutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Perlu diingat keluarga merupakan asas sebuah masyarakat, bila asasnya retak jangan harap masyakarat menjadi kokoh dan bermartabat. Ketika komunikasi menyenangkan terjadi antara suami isteri maka akan timbullah rasa kasih sayang antar keduanya. Begitu juga saat berkomunikasi dengan anak-anak di rumah. Rasulullah saw bersabda: "Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya". (Shahih Muslim No.4697).

Ini hanya secuil konsep cara mengajak diri dan orang di sekitar ke arah kebaikan dengan retorika bijak dan berbudi luhur. Ilmu yang tinggi tanpa dibarengi dengan akhlak yang mulia akan sia-sia. Ahli hikmah berkata :"الأدب فوق جميع المصالح". for the last , Lihatlah bagaimana orang China berdagang, dengan bermodal ilmu pengetahuan, kerja keras dan keramahan, mereka terus bergerak dan maju. Coba cek barang yang anda miliki dirumah sekarang, sebanyak apa barang anda yang ber-made in China, sebesar itu pula kesuksesan “dakwah” mereka terhadap diri anda. Perbedaan antara dakwah kita kaum muslimin dengan "dakwah" mereka yang non muslim adalah keuntungan mereka hanya di dunia saja, sedangkan keuntungan kita di dunia dan di akhirat. Maka Berbahagialah. Allahummarzuqna al-ikhlasha fi 'amal. Wallahu a’lam.

https://www.facebook.com/notes/muhajirul-fadhli/sampaikan-kepada-manusia-sesuai-dengan-kemampuan-akalnya/10151658886726493

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply