My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Bertengkar di Saat Ramadan

Jika kita mengikuti pola berita tentang ketegangan Indonesia – Malaysia, tentu tidak ada habis-habisnya. Sayang sekali, hal-hal kotor seperti ini muncul di tengah kekhusyukan ibadah puasa. Sayang sekali karena pertengkaran kedua negara ini sama artinya dengan pertengkaran dua bagian besar komunitas Muslim. Dan sekali lagi, sungguh kecewa karena kedua negara ini adalah satu rumpun. Siapa yang diuntungkan dan siapa dirugikan? Tidak tahu pasti, karena semua saling lempar klaim.

Yang jelas, pilihan melanjutkan pertengkaran ini menuju peperangan adalah tindakan yang sangat gegabah, siapapun yang memulainya. Memang asyik, bak menonton film nantinya, melihat tentara masing-masing negara saling bunuh di medan laga. Tapi pikirkan jika mereka mati, keluarga yang ditinggalkan hendak mengadu kemana? Perang memang ramai dan menyenangkan, bagi yang menonton. Dan sangat menyakitkan bagi yang menjalani.

Kita yang mengaku muslim, mari sejenak kita merenungi ayat Allah SWT di QS Al Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sebagai bangsa, terkadang kita sering keseleo pikiran. Kita sangat khawatir, marah dan jengkel dengan kapal negara lain yang menerobos wilayah kita. Namun di saat yang sama juga memberikan izin seluas-luasnya bagi negara lain (yang sudah kerjasama) untuk mengeruk hasil laut sedalam-dalamnya dengan kompensasi yang sangat tidak adil.

Sebagai warga negara, kita gusar dengan WNA yang ‘cari makan’ di Indonesia, tapi di saat yang sama dengan WNI yang merampok negaranya sendiri dan sesama saudaranya dengan jalan korupsi dan suap-menyuap. Mari kita merenung dan berkaca ke dalam diri sendiri.

Di bulan Ramadan yang mulia, seharusnya aspek kesalehan sosial menjadi fokus utama pada masing-masing diri kita. Menjadi orang yang baik, cinta pada kaum marjinal dan peduli atas kelangsungan hidup mereka. Untuk menuju sebuah negara yang kuat dan masyarakat yang hebat, kuncinya adalah saling mengenal dan bersilaturahmi.

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply