My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » HAM Untuk Melindungi Pelacur ?

Oleh: R. Mintarjo Wardhani
Mungkin para pembaca kaget membaca judul tulisan ini, pasalnya tidakkah “HAM“ yang selama ini digembar-gemborkan khususnya pihak Barat / Amerika, yang katanya mereka sebagai pelopor “ HAM “, diamana HAM itu sendiri merupakan perlindungan manusia dari kesewenang-wenangan oleh pihak lain, atau untuk melindungi manusia dari hak-hak pribadinya termasuk dalam hal berkreasi agar tidak dipasung kreativitasnya ?

Untuk memnjawab pertanyaan tersebut tentu kita harus melihat bagaimanakah sebenarnya yang terjadi di lapangan atau dalam kehidupan sehari-hari baik dalam skala global maupun dalam skala nasional di negeri kita sendiri.

Jika bicara secara Global sangat jelas bahwa Amerika yang selama ini sering gembar-gembor masalah “HAM“ ternyata Amerika justru dinobatkan sebagai Negara pelanggar “HAM“ terberat di Dunia.

Terlalu banyak cerita pelanggaran “HAM“ yang dilakukan oleh Amerika khususnya di Negara-negara Islam seperti, Afghanistan, Iraq, Somalia, Sudan dan masih banyak lagi.di Negara lain. Amerika dalam perang sering menggunakan persenjataan yang dilarang Dunia Internasional, bahkan dalam perang terhadap Negara yang dijajah, oleh Amerika sering dipakai sebagai uji coba senjata barunya. Disamping itu Amerika juga sering berlaku diluar batas terhadap penduduk sipil dari Negara yang dijajahnya, kita lihat bagaimana di Iraq dengan enaknya Helkopter Amerika menembaki penduduk sipil yang tidak berdaya sebagaimana yang sudah bisa kita saksikan bersama, bukan hanya di Iraq saja tapi juga di Afghanistan, Amerika membabi-buta membunuhi warga sipil, mungkin sebentar lagi kita akan dapat menyaksikan kebiadaban tersebut yang jauh lebih biadab dibandingkan dengan yang di Iraq. Bukan hanya itu saja kejahatan Amerika tidak sedikit kamp pengungsi yang didalamnya hanya terdiri dari anak-anak dan wanita dibumi hanguskan, salah satunya kamp pengusi di “Amiriya“ dengan pesawat super-canggihnya Siluman (Stealth), yang menewaskan lebih dari 1.500 anak-anak dan Ibu-ibu. Bukan hanya pengungsi yang menjadi sasaran tapi pabrik obat-obatanpun dibumi hanguskan sebagaimana yang dilakukan terhadap pabrik obat-obatan “ Asyifa “ di Sudan, padahal Negara tersebut jauh dari Amerika dan tidak ada urusan dengan Amerika.

Tidak terhitung berapa juta warga Dunia yang Negaranya dijajah Amerika akan mengalami penderitaan panjang akibat Bom-bom beracun yang dijatuhkan di Negara tersebut, belum lagi adanya beberapa penjara yang dipakai untuk penyiksaan para tahanan, diantaranya Guantanamo, penjara Abu Gharib dan masih banyak lagi penjara rahasia yang dipakai Amerika untuk penyiksaan para tahanan.

HAM RASIALIS

Akan tetapi pernahkah Dunia Internasional termasuk PBB mengukum Amerika, kalau PBB jelas tidak mungkin, karena PBB sebenarnya juga kepanjangan tangan Amerika, namun masih adakah lembaga Dunia lain yang ada bisa menghukum Amerika, jangankan menghukum mengutukpun tidak ada yang berani, mungkin cuma Iran saja yang berani, bahkan adakah lembaga perlindungan HAM di Dunia ini yang memikirkan para korban kebiadaban Amerika tersebut. Jika demikian HAM seperti apakah sebenarnya yang selama ini digembar-gemborkan Amerika?

Ternyata “HAM“ yang digembar-gemborkan Amerika selama ini adalah HAM yang rasialis, sadis, biadab dan keji, dan Demokrasi yang digembar-gemborkan selama ini juga Demokrasi rimba raya hutan, yang tidak memakai “Kekuatan Logika“ namun sebaliknya Amerika memakai “Logika Kekuatan“, karena kekuatan logika telah mereka jungkir balikkan sendiri dan dengan demikian maka aturan maupun norma baku tidak berlaku lagi, apalagi Agama.

Berbicara Demokrasi, Roger Garaudy berkata dalam bukunya “Amerika, Pioner Keruntuhan“
Demokrasi selalu menjadi tirai yang menutupi minoritas, baik itu para tuan pemilik budak maupun pemilik modal. Apa yang disebut sebagai “Demokrasi Athena“ di jaman Pericles yang menjadi prototype dari induk demokrasi, pada hakikatnya hanyalah kekuasaan duapuluh ribu warga Negara yang bebas terhadap seratus ribu budak yang tidak mendapat hak apapun. Kita sedang berada di hadapan kekuasaan minoritas yang memperbudak dan disebut demokrasi. Ia adalah demokrasi untuk para penguasa, bukan untuk orang lain.

Garaudy kemudian mengungkapkan runtuhnya logika peradaban Barat yang oleh para pengagumnya dianggap sebagai Guru Umat Manusia. Guru-guru moral mereka sekalipun mereka adalah orang-orang Barat, memberikan contoh bagi Dunia tentang fundamentalisme yang jauh lebih radikal, karena fundamentalisme adalah klaim kepemilikan mutlak dan monopoli kebenaran, bahkan wajib memaksakan kepada orang lain. Contoh paling bagus fundamentalisme adalah penjajahan yang ditopang oleh argumentasi menyebarkan dan mengukuhkan ajaran injil, untuk memaksakan pemahamannya tentang agama terhadap seluruh dunia, agar para personil militer dan perdagangan melakukan pekerjaan sisanya, yaitu pembantaian dan eksploitasi. Ketika agama mengalami kemunduran, maka para penjajah itu mengalami kemajuan untuk memaksakan “ modernisme “ mereka terhadap seluruh dunia. Fundamentalisme Barat yang menyimpang, sesungguhnya merupakan pokok semua fundamentalisme, kemudian lahirlah bentuk-bentuk fundamentalisme lainnya sebagai reaksi atas fundamentalisme pokok dari Barat dan para sekutunya.

Barat berupaya untuk mengubah norma-norma lama, karena norma-norma tersebut memiliki patokan yang mandiri yang bisa jadi dapat menguntungkan atau merugikan. Ia berupaya untuk menancapkan pilar-pilar untuk norma-norma yang telah terdistorsi yang bersumber dari keinginan dan nafsunya yang kesimpulannya norma-norma itu harus mengikuti perilakunya, buka perilaku yang harus mengikuti norma.

Bila hal itu telah terwujud dengan diabaikannya semua norma lama, dan telah tercipta norma-norma baru serta masyarakat telah diyakinkan bahwa norma-norma baru ini bersifat relative, tidak mutlak, bisa berubah bahkan pasti berubah, persis seperti berubahnya mode pakaian atau mobil. Jadi jika norma-norma dan nilai-nilai sudah kacau maka norma-norma yang campur aduk menjadi hal yang biasa, maka selainnya merupakan hal yang bathil, maka penyimpangan seks menjadi hal yang biasa karena nilai dan norma sudah tidak berlaku lagi.

Dr. Abdul Wahhab Masiri dalam sebuah bukunya mengatakan :
Wajar bila relativisme berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang seni. Pada tahun enam puluhan mulailah gerakan pemberontakan terhadap ikatan dan batasan dalam seni, baik ikatan moral maupun estetika. Kecenderungan kepada permisifisme dan kekerasan meningkat, kemudian gerakan pembebasan melampaui keduanya, karena gerakan ini telah menjadi pembebasan dari semua ikatan dan norma. Salah satu tokoh penting dalam Bazan Rewiew di Roger State University adalah seorang seminan bernama Andy Warhol yang pada pertengahan tahun enampuluhan menemukan kaleng sampah dan kaleng sup, yang dengan kemampuan seorang ahli bisa berubah menjadi pekerjaan seni yang laku dijual hingga ribuan dollar. Ia mempunyai sebuah film berjudul “ Sleep “ yang ditayangkan selama tiga jam, menggambarkan seorang yang tidur, bergerak setiap seperempat jam atau sepuluh menit. Pada masa itu saya juga melihat sekelompok teater yang menamakan diri “Pentas Realisme Radikal“ sedangkan judul pementasan yang dimainkannya adalah “Saudara Perempuan Fidel Castro“. Pentas ini penuh dengan isyarat-isyarat seksual anak-anak (diantaranya menampilkan organ-organ produksi) yang tidak bertujuan menyampaikan misi apapun, karena misi yang utama adalah membuat benturan terhadap masyarakat. Tetapi yang lebih dahsyat dan disebabkan oleh suatu factor yang hingga sekarang tidak saya mengerti , para pemain wanita memainkan peran pria, sedangkan pemain pria memainkan peran wanita. Semua ini dilakukan atas nama kreativitas, relativitas dan kebebasan. 

Yang membuat saya bingung adalah mayoritas penonton mengungkapkan kekagumannya yang luar biasa terhadap pentas ini, yang tidak seorangpun hari ini mendengar mengenainya, persis seperti yang diungkapkan tentang kekagumannya terhadap film Sleep. Arus ini terus berkembang sehingga akhir-akhir ini menampilkan dirinya dalam bentuk yang sangat agitatif dalam hasil karya tiga orang seniman penganjur relativisme ekstrim, karena telah meyakini kebebasan tanpa batas kemanusiaan itu sendiri. Salah seorang dari mereka adalah Andrea Serrano, kemasyhurannya disebabkan oleh sebuah kanvas yang diberinya judul “Kencinglah atas nama Tuhan Yesus“ dimana seniman menempatkan patung Yesus diatas Salib sambil kencing.

Yang kedua adalah Robert Mapplethorpe, ia seorang fotografer yang memiliki spesialisasi dalam mengambil gambar dirinya dalam kondisi seksual yang menyimpang yang radikal.

Yang Ketiga, dan paling terkenal adalah Joel-Peter Witkin, seorang fptografer yang menggunakan jasad-jasad mayat dalam membuat kreasi seninya. Salah satu kreativitasnya yang paling penting adalah : Hari Raya Orang-orang Lalai. Karya ini meniru salah satu jenis seni klasik yang dinamai “Tertipu“, tema utamanya adalah ketertipuan manusia dan penegasan bahwa segala sesuatu akan musnah. Latar belakang obyek yang digambar adalah buah-buahan atau makanan yang berada di nampan kemudian disampingnya terletak tengkorak manusia dan bangkai burung dalam satu nampan, untuk mengingatkan manusia kepada suatu kematian.

Tetapi Witkin mengembangkan metode penyajian dan sebagainya, karena sebagai pengganti dari tengkorak itu, ia meletakkan tangan-tangan dan kaki-kaki manusia seungguhan, dan sebagai pengganti bangkai burung, ia meletakkan mayat bayi (konon, ia menciptakan kreasinya disebuah ruang otopsi). Salah satu tema favorit Witkin adalah foto mayat-mayat yang mengenakan sedikit pakaian, dan foto seorang pria yang memasang paku di penisnya (inilah satu-satunya cara yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, begitu sang seniman memberitahu kami). Witkin juga membuat kreasi dua papan foto yang terkenal : yang satu janin abnormal yang telah dipancang di tiang salib, dan seorang lelaki tanpa kepada yang duduk di atas kursi. Ketika salah seorang wanita undangan dalam pesta pembukaan pameran tersebut muntah-muntah, sang seniman berkata : “salah satu ciri wanita cantik adalah tetap memelihara kecantikannya, sekalipun pada saat muntah”. Sebuah karya fotografi yang dijual dengan harga 35 ribu dollar (diantara agennya adalah seniman Richard Gere dan John Iltot). Dalam sebuah artikel tentang Witkin, penulisnya mengatakan : “ Jika para seniman mengekspresikan karakter dirinya, melalui karya-katya fotografi mereka, maka Witkin jelas merupakan seorang yang sadis” kehidupan Witkin pun tidak kalah sadis dan ralatif. Ketika seorang wartawan mengadakan wawancara denganya, maka sering ia berbicara sambil mengenakan topeng Zoro. Ia hidup bersama Isterinya Chintya dan kekasihnya Barbara, mereka tidur seranjang. Ia mempunyai seorang anak laki-laki dari Chintya yang diberi nama Carson (bayangkan problem kepribadian yang akan dihadapi oleh anak laki-lakinya, khususnya bila ia telah mengetahui bahwa sang seniman mengakui ia sering melakukan aktivitas seksual bersama karya-karyanya, yaitu bangkai-bangkai).

Disini kita mengungkap persoalan privacy dalam kepribadian masyarakat, apakah ini merupakan kehidupan pribadinya seorang ? Apakah penyakit misterius yang menimpa Nietzche telah mempengaruhi otaknya, padahal ia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan falsafah yang dari bawah jubahnya keluar faham filsafat modern ? (Katakan hal yang sama tentang Theodore Herzl, pendiri gerakan Zionisne, yang pada akhirnya tewas karena penyakit misterius).

Apakah hanya sampai disini , kejorokan kesadisan para seniman yang menganut relativitas,

Dr. Abdul Wahhab Masiri melanjutkan :
“Tren aliran seni ini akhirnya sampai pada apa yang disebut sebagai “ Sinful Movies“. Saya tidak mengerti apa arti istilah ini, tetapi barangkali dengan menggambarkannya akan bisa memberikan penjelasan tentang substansinya. Ia adalah film yang memadukan antara kekerasan dan seks secara sangat ekstrim. Sering adeganya diakhiri dengan seorang wanita pemerin film ini yang dalam kondisi orgasme, kemudian ia dibunuh ketika puncak orgasmenya. Pemandangan seperti ini sudah jamak dalam film-film permisif “ biasa “, tetapi dalam “ Sinful Movies “ penyembelihan benar-benar dilakukan. “ Ya, wasnita yang menjadi lakon film itu dibunuh “

kemudian disampaikanlah sebuah pesan tentang film ini dengan kalimat yang berbunyi “ sebuah pemandangan di Amerika Latin, di mana harga tenaga kerja sangat murah “.

Para produser film ini, terdorong untuk memproduksinya dengan melihat dari kacamata kreativitas, kebebasan, dan revolosi,,, dst. Sebagian intelaktual liberalis yang membela kebebasan pendapat absolute melakukan demonstrasi mengecam film-film yang menampilkan gambar-gambar semacam ini. Tetapi surat kabar “ Wall Street Journal “ mengecam sikap mereka ini dan menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang terjadi hanyalah hasil wajar dari relativitas sebuah karya seni, seksualitas, penolakan terhadap batas-batas apapun atas nama kebebasan dan kreativitas tak terbatas.

Sekarang bagaimanakah perasaan pembaca, apakah anda menjadi terkejut, demam, ataukah anda terguncang, atau anda merasa mual.

Suatu hal yang lebih menyakitkan melebihi rasa sakit yang sebenarnya, adalah perasaan korban sembelihan itu terhadap pengkhianatan sampah-sampah hina para intelektual yang menggembar-gemborkan modernisme dan relativisme, serta mengangkat tinggi-tinggi perdaban Barat seraya memaki Islam.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa HAM yang digembar-gemborkan oleh Barat ternyata sangat rasilais dan hanya berlaku bagi orang kulit putih, sedang bagi ras lain khususnya yang berwarna tidak berlaku, sehingga HAM hanya dipakai untuk melindungi para pelacur dan penganut kebebasan seks dari penolakan dan pengusiran masyarakat.

Sedangkan modernisasi dan kebebasan yang mereka inginkan adalah kebebasan tanpa batas yang melabrak semua nilai dan norma.

Inikah peradaban yang mereka inginkan agar kita anut serta kita meninggalkan nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Rasululllah Muhammad dari Allah Sang Pencipta dan Pemelihara jagad raya ini ?
Sekarang kita kembali ke Negeri ini, yang mayoritas penduduknya beraga Islam, masihkah penguasa negeri ini akan menelan mentah-mentah apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh Barat seperti HAM dan modernisasi serta kebebasan.

Kasus Penembakan “ Yang Diduga Terorrist “
Ketika Polisi ( Densus 88 ) melakukan aksi penggrebekan dan penembakan terhadap “ Orang Yang Diduga Terrorist “ semua media tak henti-hentinya menyiarkan berita ini, khususnya TV, hampir setiap jam dalam satu hari berita ini disiarkan, dan tiap hari dalam satu minggu dan ini berjalan berhari-hari, kadang-kadang sampai 1 bulan atau lebih, dan peristiwa ini di blow up secara besar-besaran, yang menggiring opini masyarakat seakan-akan Islam adalah terrorist.

Tak ketinggalan Petinggi Kepolisian pun dengan sombong dan congkaknya dihadapan kamera TV menyampaikan kepada rakyat atas keberhasilannya membasmi terrorist sekaligus menyampaikan biodata sang terorsit yang dibantai Densus 88 tersebut dengan segala kejahatan yang pernah dilakukannya, seakan-akan apa yang disampaikan suatu kebenaran, dan anehnya sebagian besar rakyat percaya, begitu juga penguasa tertinggi negeri ini.

Bukan itu saja yang dilakukan Media TV agar ratingnya naik, maka setiap hari didatangkanlah berbagai narasumber yang seakan mereka tahu dan faham benar siapa yang dibantai Polisi tersebut.

Berita Tak Berimbang atau Pembohongan Publik.
Dari aksi yang dilakukan Polisi khususnya Densus 88, ternyata masih menyisakan beberapa pertanyaan dan masalah besar yang belum terjawab diantaranya
  • 1. Adanya dagelan penggrebegan terrorist di Jawa tengah, sebagaimana yang pernah dimuat di Blog ini, dimana penggrebegan tersebut hanya akal-akalan yang sebelumnya telah diskenario dengan rapi.
  • 2. Dua dari tiga terrorist di Cawang waktu dibawa ke Mobil Polisi masih hidup, menurut saksi mata ketiga orang yang diduga terrorist tersebut tidak membawa senjata dan tidak melawan, tapi Polisi langsung menembak satu diantaranya dan langsung meninggal dan yang dua bisa ditangkap namun dipukuli dan waktu dibawa ke mobil masih hidup, namun sesampai di rumah sakit ketiganya dalam keadaan meninggal, ini sangat bertolak belakang dengan pernyatan Polisi.
  • 3. Dua dari “ Yang Diduga Terrorist “ yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Kapolri bahwa yang ditembak mati benar-benar terrorist dengan segala kejahatannya, namun sampai satu bulan pihak Polisi tidak bisa mengidentifikasi kedua orang tersebut.

Pertanyaannya ?

  • 1.Mengapa media, khusnya TV yang sebelumnya begitu bersemangat mencari berita dan mendatangkan berbagai nara sumber dan tak henti-hentinya menyiarkan berita yang belum tentu benar, namun untuk kasus tersebut diatas yang merupakan fakta dilapangan pihak TV. tidak pernah ekspos, bahkan seakan tenggelam begitu saja, apakah TV juga mendapat pesan Sponsor dari dari para Iblis, sehingga ketakutan menyiarkan.
  • 2.Mengapa Pihak Kepolisian tidak pernah memberikan klarifikasi tentang hal tersebut, begitu murahnya engkau menghargai nyawa manusia, padahal Allah pencipta manusia begitu sayangnya terhadap mahluknya, sampai-sampai Allah mengatakan “ membunuh satu orang tak berdosa ibarat membunuh seluruh manusia “ , mengapa Kepolisian merasa lebih berhak mencabut nyawa manusia yang belum tentu bersalah daripada Sang Pencipta sendiri.
  • 3.Mengapa HAM tidak pernah bicara, padahal kalau yang ditembak mati bukan orang Islam pasti dunia sudah gempar, mungkinkah HAM di Indonesia juga sama dengan HAM Amerika / Barat yang sudah rasialis.
  • 4.Mengapa kalau terhadap “ Yang Diduga Terrorist “ Polisi begitu mudahnya membunuh, tapi dalam kasus Vidio bejad moral yang sudah merusak moral generasi muda penerus bangsa begitu berhati-hati, benarkah HAM memang untuk melindungi pelacur dan pelaku seks bebas.
Saya menghargai FUI meskipun sebenarnya sangat terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak ada upaya sama sekali, dan teruskan upaya melindungi umat dari kesewenang-wenangan dari Penguasa di negeri ini.

Ya Allah, lindungilah hambamu dari kesewenang-wenangan penguasa yang dzolim dinegeri ini, dan bila Engkau masih menghendaki Negeri ini esok hari masih ada maka berilah hidayah kepada Para Penguasa yang dzolim dinegeri, namun bila Engkau merasa telinga mereka sudah tuli, mata mereka sudah buta, lidah mereka sudah tidak bisa menyampaikan kebenaran, maka Engkau Maha Bijaksana, janganlah Engkau musnahkan Negeri ini sebagaimana pernah engkau musnahkan Negeri-negeri yang dahulu pernah berbuat dzolim kepada Mu :
 
sebagaimana firman Mu dalam surat Al-Isra ( XVII ) ayat 58, yang artinya :
“tidak ada suatu negeripun yang durhaka penduduknya, yang tidak Kami musnahkan sebelum hari kiamat, atau Kami siksa penduduknya dengan siksaan yang amat keras. Hal itu sudah tertulis dalam Kitab Lauhul Mahfudzh”.

surat Al-Kahf ( XVIII ) ayat 59, yang artinya :
“sudah berapa banyak penduduk negeri-negeri yang Kami musnahkan karena mereka berbuat zalim, begitu pula telah Kami tetapkan waktu tertentu untuk memusnahkannya”
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. 

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply