My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Makna Puasa di Bulan Ramadhan

Puasa, bukan sekedar kewajiban tahunan, dengan menahan lapar dan berbuka, kemudian setelah itu hampir tidak berbekas dalam jiwa ataupun dalam perilaku dalam bersosialisasi di masyarakat, namun puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral, akhlak, dan kepedulian kepada hal social kemasyarakatan. Puasa merupakan kewajiban yang universal, dan sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW.
 Puasa, merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan. Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya.

Puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. Perasaan sama-sama lapar, haus, kesabaran yang lebih, dan kesucian pikiran juga kata-kata, mampu membuat manusia memiliki rasa kebersamaan dalam masyarakat, dan menghasilkan cinta kasih antar sesama tanpa memandang latar belakang, warna kulit, dan agama.
Wahai orang-orang yang beriman, puasa telah diwajibkan pada kalian sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Pada hari-hari yang terbilang (ayyam ma’dudat) (Al-Baqarah: 183-184).

Kalimat ayyam ma’dudat memiliki arti beberapa hari. Dalam tradisi kebahasaan Arab, kata “beberapa (jama’)” cukup diwakili oleh jumlah tiga. Kewajiban menjalankan puasa selama sebulan penuh kita temukan dalam hadits Nabi. Haditslah yang menjadi penjelas kewajiban puasa berlaku sebulan penuh selama bulan Ramadan. Salah satunya adalah riwayat Aisyah, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah melakukan shalat malam sampai pagi dan puasa sebulan penuh secara berturut-turut kecuali di bulan Ramadan” (HR Muslim).

Rasulullah bersabda, “Barang siapa melaksanakan puasa Ramadan karena iman dan harapan (pada Allah) maka dosa-dosanya yang lalu pasti diampuni” (HR Bukhari).

Bagaimana membuktikan bahwa puasa kita diterima oleh Allah dan dosa-dosa kita diampuni? Sulit menjawab pertanyaan ini secara pasti karena Allah tidak dapat diverifikasi.

Meyakini sesuatu tentu tidak dilarang. Namun keyakinan kadangkala menyeret seseorang kepada kesombongan dan ritualisme yang tak berarti: ibadah-ibadah yang dilakukan tidak memiliki makna bagi kepribadian dan lingkungan.

Rasulullah memberikan semacam acuan batin untuk pelaku puasa. Daripada berpikir tentang penerimaan Allah akan puasa kita, jauh lebih baik melihat dan merasakan sejauh mana puasa memberikan dampak positif bagi kepribadian. Rasulullah bersabda, “Puasa adalah perisai. Jika kamu puasa, maka jangan berkata keji dan jangan bertindak bodoh. Jika seseorang menantangmu atau mencacimu, maka ucapkanlah, ‘aku sedang puasa’” (HR. Malik).

Puasa adalah perisai yang melindungi pelakunya dari ucapan dan perbuatan jahat. Orang yang melaksanakan puasa harus menjadi sosok yang baik dan toleran. Dalam hadis ini bahkan dicontohkan secara ekstrem: jika ada orang menantangmu atau mencacimu, maka ucapkanlah, “Aku sedang puasa”.

Bercermin pada hadits ini, kita merasa heran bukan kepalang melihat fenomena arogansi dan kecaman jahat yang dilakukan oleh para pelaku puasa saat ini. Berpuasa, kemudian menindas orang yang tidak puasa. Berpuasa, kemudian mencaci orang yang tidak puasa. Berpuasa, kemudian menuduh orang yang tidak puasa sebagai tidak menghormati Ramadan.

Mengapa kebaikan yang diajarkan oleh Rasulullah tidak dapat kita hayati dan kita realisasikan?
Puasa diwajibkan agar pelakunya menjadi sosok yang bertakwa. Takwa adalah simbol kebajikan sosial, bukan hanya penampilan. Segala kebajikan adalah bagian dari ketakwaan. Orang bertakwa adalah orang yang gemar pada kebajikan, dalam bentuk apapun dan diberlakukan kepada siapapun.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tapi hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Berapa banyak orang yang melaksanakan ibadah malam tapi hanya mendapatkan kelelahan karena tidak tidur!”. (HR. Ahmad).

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply