My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » » » » Melihat Kembali “Hadis Perpecahan Umat”

Waktu aku di Indonesia, bercerita tentang dunia pendidikan, aku menyebutkan salah satu pesantren di Depok, temanku memotong pembicaraanku, “Apa pemilik pesantren itu orang kita?”. “Maksudmu orang kita?”, kataku heran. “Ya, ahli sunnah wal jamaah lah..”. “Yaiyalah, masak ada orang Kristen buat pesantren!ya pasti orang kita lah…kita Islam maksudku”.

Setelah itu, aku pulang jalan kaki, sepanjang jalan aku berpikir, kenapa sampai ada pertanyaan seperti itu? Kenapa harus ada istilah “orang kita”? apalagi sedang berbicara tentang pesantren yang jelas-jelas institusi pendidikan Islam yang didirikan oleh orang Islam juga. Kalau lagi berbicara tentang mall, town centre, atau hotel, boleh lah ada pertanyaan “orang kita”, karena bisa jadi yang punya adalah investor asing. Aneh!

Yang menjadi pertanyaan, kenapa bisa ada istilah demikian? Pendidikan apa yang mereka temui sehingga mind-setnya terbentuk seperti itu?seakan-akan dialah yang benar, seakan-akan hanya dia yang ahli sunnah, yang lain ahli bid’ah dan ahli kafir. Wal iyadzu billah.

Dari pemikiran seperti inilah muncul fenomena menyalahkan orang lain, membid’ahkan orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain. Seharusnya, kita tidak perlu masuk ke dalam ranah yang seperti ini, kenapa kita tidak menanamkan husnu dhan pada orang lain, daripada harus su’u dhan, kenapa kita tidak memandang orang lain dari poin-poin persamaan, daripada sibuk mengutak-atik perbedaan, yang jelas-jelas persamaan itu jauh lebih banyak daripada perbedaan.

Ada hadis yang menjelaskan tentang kejadian akhir zaman, ini berupa prediksi Rasulullah tentang nasib umatnya di akhir zaman. Hadis ini memang tidak ada dalam sahih Bukhari atau sahih Muslim, tetapi karena banyaknya periwayatan hadis ini oleh beberapa sahabat, seperti Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, Abdullah bin Amar bin ash, Jaber bin Abdullah dan lainnya, membuat hadis ini kuat, dan statusnya adalah shahih menurut imam Tirmizi.

Hanya saja, ada perbedaan sederhana pada matan hadis tersebut, ada yang menyebut perpecahan saja, ada juga yang menyebut perpecahan dan menyebut yang selamat. Namun secara umum, perbedaan tersebut tidak mengurangi status hadis, dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak hadis ini, aku akan menyebutkan dua hadis saja, karena hadis terkait ada sekitar 15 hadis, namun esensinya adalah sama, hanya terdapat sedikit perbedaan dalam redaksi hadis.
  1. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Umat Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 kelompok (firqah), umat Nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 kelompok, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok”.(HR.Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah,Ahmad dan Hakim)
  2. Dari Muawiyah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dua ahli kitab (yahudi dan nasrani) akan terpecah menjadi 72 kelompok (millah), dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, semuanya akan masuk neraka kecuali satu kelompok, yaitu jamaah”.(HR.Abu Daud, Ahmad, Hakim)
Menyikapi hadis ini, ada beberapa pendapat ulama, ada yang menafikan keotentikan hadis ini, ada yang mengatakan dhaif, bahkan ada yang mengatakan kata-kata “semuanya akan masuk neraka kecuali satu kelompok…” adalah palsu, seperti yang dikatakan oleh sheikh Siddiq Hasan Khan. Tapi, kita tidak akan menyikapi demikian, kita juga tidka berani menolak hadis ini, karena ada 15 hadis senada, dan diriwayatkan dari beberapa sahabat besar seperti yang tersebut di atas. Tapi, kita akan mencoba memahami hadis ini dari berbagai sisi, dari segi bahasa dan mafhum-mafhum yang ada di dalam redaksi hadis itu.

Pertama: Kalau kita pahami semua umat sesat dan masuk neraka, kecuali satu kelompok, ini pemahaman yang beresiko dan sangat mendukung umat Islam untuk saling menyalahkan dan mengandung unsur perpecahan. Banyak orang yang memahami demikian, akhirnya muncullah kelompok-kelompok yang mengatakan merekalah ahli sunnah wal jamaah, yang lain semuanya sesat. Ini disebabkan kejumudan berpikir dan kesempitan pemahaman.

Kedua: Dalam beberapa hadis dan beberpa kesempatan, Rasulullah menjelaskan yang esensinya adalah siapa yang mengucapkan dua syahadat, apabila dia mati maka diharamkan baginya neraka. Salah satunya, “Barang siapa yang menghadap Allah, dia tidak syirik pada-Nya, maka diharamkan bagimnya neraka”.( Muttafaq Alaih). Dalam hadis lain riwayat imam Nasai, Rasulullah bersabda, ”Asyahdu Alla Ilaha Illallah, wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah…barang siapa yang menghadap Allah dengan membawa dua kalimat ini, maka neraka tertutup baginya”. Atau hadis lain, “Barang siapa yang menutup akhir hayatnya dengan La Ilaha Illallah maka dia akan masuk surga”. Hadis senada banyak sekali, secara esensial dia sudah berstatus mutawatir.

Ketiga: Kalau rasulullah sudah bersabda demikian, apakah beliau menyalahi kata-katanya sendiri dengan mengatakan “Umatku akan terpecah menajdi 73 dan semuanya masuk neraka kecuali satu…”. Cuma 1 kelompok? Sekarang kelompok Jahmiyyah mengatakan La Ilaha Illallah, Mu’tazilah mengatakan La Ilaha Illallah, kelompok Hasywiyyah mengatakan La Ilaha Illallah, Syiah juga mengatakan La Ilaha Illallah! Jadi, apakah Nabi sekali ngomong ini, sekali lagi ngomong itu? Terus bagaimana memahaminya?

Mari kita coba memahami konteks hadis ini dari berbagai pandangan:
Rasulullah mengatakan, “Umat Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 kelompok (firqah), umat Nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 kelompok…”, secara mafhum bahasa, harusnya beliau mengatakan “akan terpecah umat Islam”, karena menyebutkan Yahudi, kemudian Nasrani, dan satu lagi seharunsya Islam, bukan ummati. Tapi kenyataanya beliau mengatakan umatku, bukan Muslim atau Islam.

Secara bahasa, khususnya setelah dia dipakai dalam pengertian Islam, bahwa umat itu memiliki dua pengertian, umat dakwah dan umat istijabah. Umat dakwah itu adalah seluruh manusia yang lahir setelah diutusnya nabi Muhammad, baik itu Yahudi, Nasrani, orang Barat, orang Timur, Hindu, Budha, semuanya termasuk dalam kata-kata umat dakwah, karena nabi Muhammad diutus untuk rahmatan lil alamin, bukan untuk umat tertentu saja. Dan umat istijabah adalah umat Islam, yang menerima ajakan dan dakwah Rasulullah untuk memeluk Islam. Dan yang dimaksud dalam hadis ini “umatku” adalah umat dakwah.

Kenapa kita mengatakan itu umat dakwah, dalilnya hadis riwayat Muawiyah yang mengatakan “sesungguhnya dua ahli kitab (yahudi dan nasrani) akan terpecah menjadi 72 kelompok (millah), dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok, semuanya akan masuk neraka kecuali satu kelompok, yaitu jamaah”. Dalam hadis itu Rasulullah menggunakan kata-kata millah, yaitu Yahudi, Nasrani atau Islam. Dari ini kata-kata millah yang merupakan sinonim Agama, kita men-tarjih makna “umatku” adalah umat Islam.

Artinya, semua agama yang lain tidak akan selamat di akhirat kecuali agama Islam, atau semua orang yang mengatakan La Ilaha Illallah akan selamat.

Kalau kita memahami “umatku” adalah umat istijabah, orang NU mengakui dirinya ahli sunnah wal jamaah, artinya Muhamamdiyah nggak termasuk, Muhamamdiyyah nggak mau ketinggalan, dia mengaku ahli sunnah. Nanti ada lagi Wahabi mengaku mereka kelompok yang selamat, datang Syiah lagi mengakui mereka paling benar!

Musuh yang ingin menghancurkan umat Islam sudah di ambang pintu, kita masih meributkan masalah siapa ahli sunnah wal jamaah. Masih menyalahkan kelompok ini, menyalahkan kelompok itu, dan ujung-ujungnya mengkavling surga untuk kelompok masing-masing. Buat apa Surga diciptakan seluas langit dan bumi, kalau hanya untuk menampung kolompok yang disebut wahabi yang jumlahnya berapa juta saja! Atau kelompok yang disebut NU! Atau kelompok yang disbut Syiah!

Penafsiran hadis iftiraqul ummah seperti ini pernah ku dengar suatu ketika beberapa tahun lalu dalam khutbah jumat di Masjid Agung Bani Umayyah Damascus yang disampaikan oleh syahidul mimbar sheikhna Al Buty Rahimahullah. Awalnya aku berpikiran bahwa “umatku” itu adalah umat istijabah, tapi setelah mendengar khutbah dan penjelasan beliau, aku memahami “umatku” seperti yang tertulis di atas.

Jangan mengakui diri ahli sunnah wal jamaah kalau tidaK pernah mengikuti sunnah Rasulullah dan tidak pernah melakukan shalat berjamaah. Wallahu A’lam.

Penulis : Saief Alemdar

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply