My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Negeri Yang Aman Sentosa

Nabi Ibrahim mengambil kendali hewan tunggangannya. Dengan berat hati, beliau memohon diri dari hadapan Siti Hajar dan putranya untuk melanjutkan perjalanan. Dan beliau pun meninggalkan Mekah.

Tetapi, tak berapa lama setelah kepergian Ibrahim, persediaan makanan dan minuman Siti Hajar beserta anaknya mulai menipis. Dan air susu Siti Hajar pun tinggal sedikit. Hal ini membuat kondisi putranya mulai merosot. Gelisah dan bingung menggelayuti hati sang ibu yang hidup terasing di tengah padang pasir. Dalam keadaan amat risau, ia bangkit berdiri, lalu pergi ke bukit Shafa untuk mencari sekedar air. Dari atas bukit itu ia melihat suatu bayangan dekat bukit Marwah, maka ia pun berlari menuju ke sana. Namun, pemandangan itu membuatnya kecewa, karena ternyata hanya fatamorgana. Tangisan putra tercintanya mendorong semangat sang ibu, hingga ia pun berlari-lari terus kesana kemari. Demikianlah, ia laku kan berulang-ulang untuk mencari air antara bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali. Namun tetap saja nihil hasilnya, sampai pada akhirnya ia pun kembali lagi di hadapan sang putra.

Si anak sudah mulai lemah kondisi badannya karena haus dan lapar. Kemampuannya meratap atau menangis mulai sirna. Namun, justru pada saat itulah doa sang ayah, (Ibrahim) terkabul. Ibunya yang sudah letih lesu itu tiba-tiba melihat ada air jernih yang terus mengalir keluar dari bawah kaki putranya, Isma’il. Sang ibu, yang sudah dalam keadaan harap-harap cemas itu merasa sangat gembira demi melihat air itu. Siti Hajar dan anaknya sekarang dapat minum sepuasnya, dan kabut putus asa yang telah merentang dalam bayangannya menjadi hilang karena adanya rizky dan rahmat dari Ilahi. (lihat Tafsir al-Qummi, hal. 52; Bihar al-Anwar, II, hal. 100).

Sejak munculnya sumber air yang dinamakan Zam-zam itu, mengundang banyak burung- burung terbang di atasnya, karena ingin ikut merasakan segarnya air tersebut.  Orang-orang dari suku Jarham yang sedang dalam perjalanan jauh melihat banyak burung-burung beterbangan kesana kemari di tengah padang pasir, maka mereka membuat kesimpulan bahwa telah ditemukan air di sekitar burung-burung itu. Mereka pun lalu mengutus dua orang untuk memantau keadaan itu. Hingga pada akhirnya kedua orang itu sampai juga di depan sumber air yang merupakan rahmat Ilahi tersebut. Dan mereka pun melihat ada seorang wanita dan anaknya sedang duduk di tepian sumber air. Kedua utusan itu pun segera kembali dan melaporkan kepada pimpinan sukunya. Maka orang-orang suku Jarham itu pun mengambil keputusan untuk memasang kemah di sekitar sumber air yang diberkati itu, dan hal ini pula yang membantu Siti Hajar dapat terlepas dari banyak kesulitan dan kesepian di padang pasir.

Sang putra, Isma’il lambat laun tumbuh makin besar, dan menjadi pemuda yang baik dan ramah. Sampai pada masanya ia pun dinikahkan dengan wanita suku Jarham. Dengan demikian, ia dengan sendirinya mendapat dukungan dan bisa menjadi anggota masyarakat suku Jarham tersebut. Oleh karena itu, melalui hubungan pernikahan ini, dari sisi ibu, keturunan Isma’il masih berfamili dengan suku Jarham.

Setelah bertahun-tahun lamanya meninggalkan sang putra tercinta di tanah Mekah karena perintah Allah Yang Mahakuasa, maka muncul dalam benak Ibrahim keinginan untuk pergi melihat putranya. Dan ketika telah sampai di Mekah, beliau mendapatkan kabar bahwa putra yang telah tumbuh dewasa itu ternyata telah menikah dengan seorang wanita dari suku Jarham. Ibrahim lalu berusaha mengunjungi tempat tinggal anaknya. Namun Ibrahim mendapati bahwa anaknya sedang tidak di rumah. Maka beliau pun bertanya kepada istri Isma’il, “Di mana suamimu ?”
Wanita itu menjawab, “Ia sedang keluar untuk berburu !”. Kemudian Ibrahim bertanya kepadanya apakah ia mempunyai makanan. Wanita itu menjawab tidak ada. Ibrahim agak sedih mendengar jawaban yang nadanya kasar dari istri putranya. Beliau lalu berpesan kepada menantunya itu, “Bila Isma’il pulang, sampaikan kepadanya  salam saya, dan katakan pula kepadanya untuk mengganti ambang pintu rumahnya.”

Kemudian Ibrahim pun pergi.
Ketika kembali ke rumah, Isma’il mencium bau ayahnya. Dan dari keterangan istrinya, ia menyadari bahwa orang yang telah mengunjungi rumahnya adalah memang ayahnya. Ia juga mengerti tentang pesan yang ditinggalkan ayahnya untuk mengganti ambang pintu, yang maknanya bahwa beliau (Ibrahim) menghendaki agar Isma’il menceraikan istrinya dan menggantikannya dengan yg lain, karena beliau memandang istrinya yang sekarang tidak pantas menjadi kawan hidupnya. (lihat Bihar al-Anwar, hal.112, sebagaimana dikutip dari Qishash al-Anbiya’).

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa setelah melakukan perjalanan yang jauh itu, Ibrahim tidak menunggu saja sampai putranya pulang dari berburu agar dapat bertemu ? kenapa langsung pergi lagi tanpa ingin bertemu putranya ?. Para sejarawan menerangkan bahwa Ibrahim pulang dengan tergesa-gesa karena telah berjanji kepada Sarah, bahwa beliau tidak akan tinggal lama di Mekah. Setelah perjalanan ini, ia juga diperintahkan Allah Yang Mahakuasa untuk melaksanakan suatu perjalanan lagi ke Mekah, untuk mendirikan Ka’bah guna menarik hati orang yang beriman dan bertauhid .

Al-Qur’an menyatakan bahwa menjelang hari-hari terakhir Ibrahim, Mekah telah tumbuh menjadi sebuah kota, karena setelah menyelesaikan tugasnya, ia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS.Ibrahim, 14:35). Dan ketika tiba di gurun Mekah, ia berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa.” (QS al-Baqarah, 2:126).
———————————
(sumber : Ja’far Subhani, hal.50-69, Judul buku: AR-RISALAH Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW) http://media.isnet.org/v01/islam/Etc/

Seruan Haji 

Ketika Nabi Ibrahim as. selesai membangun Ka’bah, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk menyeru manusia agar melaksanakan haji. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serukanlah kepada seluruh manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. ”

Nabi Ibrahim berkata kepada Allah Taala, “Wahai Tuhan! Bagaimana suaraku akan sampai ?”. Allah Ta’ala berfirman, “Serulah! Aku yang akan membuat suaramu sampai”. Kemudian Nabi Ibrahim as. naik ke gunung Qubis dan memasukkan jari tangannya ke kuping sambil menghadapkan wajahnya ke Timur dan Barat beliau berseru, “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan kepadamu menunaikan ibadah haji ke Baitul Atiq, maka sambutlah perintah Tuhanmu Yang Maha Agung.” Seruan tersebut telah didengar oleh setiap yang berada dalam sulbi laki-laki dan rahim wanita. Seruan itu disambut oleh orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Ta’ala bahwa ia akan melaksanakan haji, dan sampai hari Kiamat mereka akan tetap menyambut seruan itu dengan untaian kalimat yang artinya, “Telah saya penuhi panggilan-Mu, Ya Allah! Telah saya penuhi panggilan-Mu !.”


Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu [a] atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS.Al Baqarah : 200)

Keterangan :
[a] Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. Setelah ayat ini diturunkan maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply