My Islam

Tokoh Islam

Biografi

Artikel

Tips & Tricks

Kisah

» » Palestina: Ideologi dan Kemanusiaan

Oleh Zahrul Bawady M. daud

SEBELUM mencapai Sinai, terdapat sebuah benteng yang diberi nama Berlief, yang pernah dijadikan sebagai satu gudang persenjataan Israel ketika berperang melawan Mesir. Gudangnya di bawah tanah. Area benteng dipenuhi terowongan bawah tanah yang berfungsi menghubungkan antarruang. Masih tersisa berbagai senjata serta tank yang digunakan Israel ketika itu.

Di sebuah ruangan terdapat beberapa sajak perang dan pelecut semangat. Makna yang dikandung dalam sajak tersebut menunjukkan bahwa perang ini merupakan perang suci, untuk meraih tanah yang dijanjikan, dan bangsa Israel adalah bangsa suci yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin dunia, Israel adalah ras terpilih (sya’bullah al mukhtar). Demikian di antara makna beberapa sajak yang ditulis pada dinding-dinding terowongan.Genocida yang dilancarkan Israel merupakan perpanjangan tangan dari proyek zionisme internasional. Perang yang ditabuh Israel bukan saja perebutan wilayah. Raghib Sarjani, ulama serta sejarawan asal Mesir menyebut bahwa perbuatan keji Israel terhadap rakyat Palestina adalah persoalan umat Islam dan ideologi Islam. Bukan hanya soal teritorial dan kemanusiaan semata.
 Ekstremis Yahudi yang menganut paham zionis digambarkan oleh beberapa pemikir Yahudi sendiri sebagai aktor intelektual dalam berbagai kebijakan politik Israel. Kalangan ini juga diklaim berada dalam berbagai kebijakan politik Amerika Serikat (AS) maupun beberapa negara berkembang lain.

Israel menggambarkan diri sebagai bangsa yang ditindas, dengan alasan ini pula mereka membantai puluhan ribu rakyat Palestina. Menganggap wilayah Al-Quds sebagai tanah yang dijanjikan, padahal sejarah Israel sebagai sebuah bangsa saja masih terus dipertanyakan.

Jamal Abdul Hadi di dalam Aktha’ Yajibu an Tushahhah fi al-Tarikh menyimpulkan bahwa negara Israel berdiri setelah mencaplok secara keji tanah Palestina. Tidak ada asal usul resmi kecuali mitos belaka.

Barangkali dari sini sebuah pertanyaan bergolak dalam benak seorang pemikir muslim, Mohamad Thahir Ulwani. Dalam tulisannya, Gaza wa Khitab al-Malhamiyah al-Qur’aniyah Li Bani Israel beliau menulis, banyaknya ulasan Alquran yang berkaitan dengan Bani Israel dianalogikan banyaknya ulasan Alquran tentang Iblis. Keberadaan Iblis dihadapkan pada posisi konfrontatif dengan Nabi Adam.

Urgensi Palestina

Mengapa masalah Palestina penting, seharusnya tidak lagi menjadi pertanyaan bagi kita. Lihatlah di dalam sejarah. Berbagai peradaban ingin menduduki Palestina. Berbicara populasi, tentu ini bukan hal urgen, apalagi luas wilayah.

Kekacauan di Palestina akibat diaspora Yahudi sudah diprediksikan oleh Sultan Abdul Hamid II. Herzl pernah mencoba menempuh jalur runding dengan menawarkan bantuan kepada Usmani yang pada 1896 tengah dihimpit krisis ekonomi. Akan tetapi, Sultan menolak mentah-mentah. Yahudi tidak mendapat izin sebagai warga negara utuh, tapi hanya sebagai pendatang.

Konflik Yahudi-Palestina juga bisa diibaratkan pertarungan antara Islam versus Barat-Yahudi yang saling bekerjasama sejak mereka berniat meruntuhkan kerajaan Turki Usmani. Barat butuh benteng di negara Arab, sedangkan Yahudi butuh pendukung resmi berbentuk kekuatan negara.

Bagi umat Islam, Palestina dapat kita sebut sebagai satu ibu kota agama samawi, mengingat di sini berkembang ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as, Isa as, Daud as, dan Yakub as. Di sini pula terletak kiblat pertama umat Nabi Muhammad saw, yaitu Al-Aqsha, di mana Nabi Muhammad sendiri pernah shalat di tempat ini ketika berlangsungnya peristiwa Isra dan Mikraj-nya. Di dalam Alquran, wilayah ini disebut tanah yang suci atau tanah yang diberkati.

Usaha pendirian Israel dimulai melalui Kredo Zionis di Basel Swiss pada 1897. Dihadiri 204 tokoh Yahudi dari 15 negara. Tujuan kredo ini adalah menciptakan rumah bagi bangsa Yahudi. Kredo ini sendiri lahir melalui klaim pemuka zionis menurut kitab suci mereka yang penuh distorsi. Dari sinilah teror terhadap rakyat Palestina dimulai.

Sejak kehadiran Yahudi dengan kekejamannya yang membabi buta, rakyat Palestina mulai membangun perjuangan. Sebagian dari mereka bertahan di Jalur Gaza untuk mempertahankan kehormatan dan Al-Quds, sebagian lain menjadi pengungsi di luar tanah air. Dari Gaza pula perlawanan Palestina era modern dimulai. Perjuangan rakyat ini dikomandoi oleh Hamas, sebuah simbol gerakan perlawanan rakyat Palestina.

Penggalian bawah tanah atas dasar pencarian artefak dan arkeologi terus digalakkan oleh Israel. Ketua Qadhi al-Quds dalam sebuah Muktamar Internasional di Kairo pada 2011 menyebut fakta sebenarnya jauh lebih dahsyat. Sekejap saja umat Islam terlena, maka Al-Aqsha akan menjadi tumbal. Bangunan suci (Masjid Al-Aqha dan Masjid Qubbah Shakra) akan melayang.

Kesatuan umat

Bangsa-bangsa di dunia harus melakukan koalisi untuk membendung kejahatan Israel, atas dasar akidah maupun kemanusiaan. Selain menggalang dukungan untuk berdirinya negara Palestina merdeka dengan tapal batas yang benar, negara-negara Arab terutama juga harus mengkaji kembali kebijakan politik luar negerinya dengan Israel. Ini dapat dikampanyekan Indonesia melalui Sidang Umum PBB, maupun Forum G-20.

Perdamaian yang telah dilakukan selama ini tidak pernah menemui hasil. Alasannya tak lain karena Israel bukan ingin mencari solusi, tapi ingin mempertahankan status quo. Tercatat, perjanjian Oslo 1993, perjanjian Camp David dengan Mesir, hanya sebagai taktik untuk lebih memberikan tekanan yang lebih pada rakyat Palestina.

Pembatalan kesepakatan pasokan minyak kepada negara yang tidak mendukung kemerdekaan Palestina bisa dikatakan sebagai usaha paling realistis saat ini. Semua negara Timur Tengah dan OKI harus bahu membahu serta melupakan konflik internal mereka. Jangan sampai cadangan minyak habis, sementara Israel-AS sudah siap dengan energi pengganti, baru kita mulai memboikot.

Kemerdekaan Palestina Raya diyakini hanya menunggu waktu saja. Bahkan, dalam sebuah konferensi setelah revolusi Arab, Raghib Sarjani dan Qardhawi tak sungkan menyebut kita akan menjadi saksi runtuhnya zionisme Yahudi Israel. Palestina terus menggeliat untuk meraih kemerdekaannya. Siapa yang akan berada di front terdepan?

Dalam dua periode kemenangan Palestina yang akbar, Shalahuddin Al-Ayyubi dan Nuruddin merupakan tokoh utama pembebasan Al-Quds, keduanya bukan bangsa Arab, namun menjadi pahlawan untuk tanah Arab dan Islam. Palestina memang bukan negara kita, tapi ia seharusnya berada di hati kita. Semoga!

* Zahrul Bawady M. Daud, Mahasiswa Pascasarjana (Spesialisasi Perbandingan Mazhab) Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan Mahasiswa Pascasarjana (Spesialisasi UU Internasional) pada Universitas of Arab Research and Studies

Author Straw Hat

Jαngαn mαlu untuk menulis tentαng Islαm wαlαupun sepotong αyαt...Mαnα tαhu dengαn sepotong αyαt itu berhasil menyentuh hαti pembαcαnyα....

Sharing Is Caring
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply